Karena itu, mencari makan di kedalaman melebihi 3.000 meter akan membebani fisiologis paus secara ekstrem dan dapat meningkatkan risiko kelelahan fatal atau penyakit dekompresi," tulis para peneliti dalam makalah mereka.

Bentuk topografi dari Zona Diamantina sendiri diduga ikut memengaruhi penumpukan fosil satwa laut ini. Struktur jurang laut yang menyerupai huruf V menjadi faktor penentu berkumpulnya bangkai purba.

in1

"Pada akhirnya, topografi Zona Diamantina yang berbentuk V mungkin makin berkontribusi terhadap akumulasi ini dengan menyalurkan dan memusatkan ke dasar laut, bangkai-bangkai yang tenggelam akibat kematian alami maupun tidak disengaja," tambah mereka.

Tim peneliti turut mendokumentasikan biota kaya yang tumbuh subur di lima titik kuburan paus yang masih aktif.

Biota tersebut di antaranya meliputi cacing Osedax, bintang mengular (brittle stars), dan moluska bivalvia.

Kondisi ini membuktikan bahwa ekosistem kuburan paus dapat berkembang jauh lebih luas dari pengetahuan sebelumnya. Situs lautan terdalam ini sekaligus berperan menjadi arsip evolusi mahluk hidup.

Sejarah evolusi paus paruh selama jutaan tahun terawetkan dengan baik di satu lokasi ini.

>>> BI Naikkan Suku Bunga Acuan ke 5,75%, Prioritas Stabilitas Rupiah

Peneliti sejauh ini telah mendokumentasikan satu spesies punah yang tidak dikenal dan menduga masih banyak spesies lain.