Penjelajahan di Zona Patahan Diamantina ini merupakan bagian dari Global Trench Exploration and Dive Programme (Global TREnD). Proyek penelitian ini sekarang dikenal sebagai Global Hadal Exploration Programme (GHEP).

Penyelaman menggunakan kapal selam berawak bernama Fendouzhe. Para peneliti pertama kali melihat situs kuburan paus ini pada Februari 2023.

in1

Setelah temuan awal itu, mereka melakukan penyelaman sebanyak 32 kali lagi dalam minggu-minggu berikutnya.

Di sepanjang jurang sedalam ribuan meter tersebut, tim mencatat dan mengambil sampel di 485 lokasi jatuhan paus.

Hasilnya mencakup sisa fosil dari 476 paus dan lima ekosistem yang aktif. Tim peneliti juga berhasil mengumpulkan banyak sampel fisik dari dasar samudra.

>>> Austria Waspadai Kualitas Argentina Jelang Laga Grup J Piala Dunia 2026

Tengkorak paling tua yang didapatkan dari lokasi tersebut diperkirakan berasal dari 5,26 juta tahun yang lalu.

Mayoritas sisa tengkorak berasal dari keluarga paus paruh (beaked whale), baik jenis modern maupun yang sudah punah.

Spesies laut dalam ini dikenal sulit dijumpai dan memiliki moncong mirip lumba-lumba. Bagian tulang moncong dari paus paruh ini memiliki struktur yang sangat padat.

Karakteristik fisik tersebut membuat tulang mereka mampu bertahan dalam waktu yang sangat lama di dasar laut.

Misteri Spesies di Zona Patahan

Zona Patahan Diamantina diduga menjadi titik akumulasi alami bagi berbagai spesies paus yang berbeda. Namun, jasad spesies lainnya kemungkinan membusuk terlalu cepat hingga tidak meninggalkan sisa.

Faktor gaya hidup paus paruh yang berspesialisasi memburu cumi-cumi dan ikan laut dalam juga diduga berpengaruh. Kebiasaan ini dinilai berkontribusi terhadap penumpukan bangkai mereka di kawasan tersebut.

"Kedalaman penyelaman maksimum untuk paus paruh diperkirakan lebih dari 3.000 meter berdasarkan kolapsnya paru dan kapasitas penyimpanan oksigen.