Cacing Raksasa 3 Meter Ditemukan Hidup di Dalam Kerak Bumi Bawah Laut
Para ilmuwan dikejutkan dengan penemuan cacing tabung raksasa (Riftia pachyptila) yang hidup di dalam kerak samudra Bumi.
Cacing sepanjang 3 meter (10 kaki) ini ditemukan di rongga bawah dasar laut dekat lubang hidrotermal.
>>> Abdul Somad Ungkap Retaknya Hubungan Politik Abdul Wahid di Persidangan
Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Nature Communications pada 2024. Ekspedisi menggunakan kapal riset Falkor (too) yang dikelola Schmidt Ocean Institute, dengan kendaraan bawah air robotik SuBastian.
Tim peneliti menjelajahi punggungan vulkanik di East Pacific Rise, pada kedalaman 2.500 meter. Robot tersebut mengangkat lempengan kerak samudra di dasar lubang hidrotermal.
Beberapa inci di bawah dasar laut berbatu, mereka menemukan rongga bawah permukaan yang berisi cairan hidrotermal bersuhu stabil 25°C.
Di dalam rongga itu, kamera menangkap komunitas hewan multiseluler yang kompleks.
Bagaimana kehidupan kompleks menjajah bawah permukaan
Ahli mikrobiologi telah lama tahu bahwa kehidupan mikroskopis melimpah di dalam kerak Bumi.
Namun, menemukan hewan besar dan kompleks di kantong bawah laut merupakan perubahan besar dalam biologi laut dalam.
Penemuan ini mendefinisikan ulang batas habitat hewan di Bumi.
>>> Swiss vs Bosnia Herzegovina: Formasi Utama Laga Grup B Piala Dunia 2026 Dirilis
Sebelumnya, kerak samudra di bawah lubang hidrotermal dianggap hanya sebagai saluran fluida, bukan zona hunian bagi organisme kompleks.
Para peneliti mengusulkan mekanisme kolonisasi: larva cacing kecil kemungkinan bermigrasi ke bawah melalui retakan dasar laut.
Sirkulasi fluida hidrotermal menarik larva ke bawah, memungkinkan mereka menetap di rongga hangat.
Migrasi ini menunjukkan bahwa laut terbuka, dasar laut, dan kerak bawah permukaan membentuk jaring kehidupan yang saling terhubung.
Risiko konservasi dan pencarian kehidupan alien
Ekosistem bawah permukaan yang baru ditemukan ini menghadapi risiko dari proyek penambangan laut dalam. Aktivitas penambangan dapat merusak rongga bawah permukaan dan menghancurkan habitat hewan.
Selain itu, pemahaman tentang lingkungan bawah tanah ini memberikan model penting bagi astrobiologi.
Kondisi vulkanik di bawah dasar laut Bumi mirip dengan lingkungan yang diperkirakan ada di bulan-bulan es di tata surya.
>>> Alexis Ohanian Dikritik Usai Hadiri UFC di Gedung Putih yang Kontroversial
Jika kehidupan kompleks dapat bertahan di bawah kerak samudra Bumi tanpa sinar matahari, kemungkinan menemukan kehidupan serupa di dunia samudra seperti Europa atau Enceladus meningkat secara signifikan.
Update Terbaru
Putaran Pertama Babak Grup Piala Dunia 2026 Berakhir, Sejumlah Tim Unggulan Tersendat
Jumat / 19-06-2026, 03:13 WIB
Teach You A Lesson Pertahankan Posisi Puncak Netflix Global
Jumat / 19-06-2026, 03:13 WIB
Mantan Pegawai NCS Singapura Dipenjara karena Hapus 180 Server Virtual
Jumat / 19-06-2026, 03:13 WIB
Mengenal Oblog, Kuliner Tradisional Betawi Kaya Rempah yang Mulai Langka
Jumat / 19-06-2026, 03:12 WIB
Raul Gonzalez: Indonesia Punya Potensi Besar Tembus Piala Dunia
Jumat / 19-06-2026, 03:12 WIB
BookCabin Travel Fair 2026 Hadir di Medan, Banyak Promo Tiket Pesawat
Jumat / 19-06-2026, 03:12 WIB
Google Luncurkan Android 17 dengan Fitur Keamanan dan Multitasking Baru
Jumat / 19-06-2026, 03:11 WIB
Kopassus Usung Tema Garda Senyap Untuk Negeri di HUT Ke-74
Jumat / 19-06-2026, 03:10 WIB
Lionel Messi Bidik Sederet Rekor Sejarah di Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 03:10 WIB
The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan dalam Rapat Perdana Kevin Warsh
Jumat / 19-06-2026, 03:10 WIB
Portugal vs Kongo di Piala Dunia 2026: Laga Perdana Grup K di Houston
Jumat / 19-06-2026, 03:09 WIB
Unggahan Threads Viral: Tradisi Cuci Piring Berdasarkan Gender Tuai Pro-Kontra
Jumat / 19-06-2026, 03:09 WIB
Ditjen Pajak Soroti Potensi Kehilangan Penerimaan Negara dari Makan Bergizi Gratis
Jumat / 19-06-2026, 03:09 WIB
Penerbitan Obligasi Korporasi Diprediksi Tertahan Akibat Kenaikan BI Rate
Jumat / 19-06-2026, 03:09 WIB






