Respons Zuckerberg dan Upaya Pemulihan

Menanggapi situasi yang memburuk, CEO Meta Mark Zuckerberg mengirimkan memo internal pada Jumat lalu untuk mengakui tekanan yang dihadapi stafnya.

"Kompas utama Meta adalah menjadi tempat terbaik bagi orang-orang paling bergakat di dunia untuk memberikan dampak," tulisnya.

Sebagai upaya memulihkan moral kerja, Zuckerberg menjanjikan penyelenggaraan hackathon AI pada bulan Juli mendatang serta penyediaan meja kerja permanen bagi karyawan.

>>> Perbanas: Penurunan Kredit UMKM Akibat Rendahnya Permintaan, Bukan Penolakan Bank

Namun, rencana tersebut ditanggapi dengan sikap skeptis oleh sejumlah staf.

Seorang karyawan melalui pesan internal mengatakan, "Saya benar-benar sibuk memastikan tim saya tetap bisa bekerja. Saya tidak punya insentif untuk berpartisipasi, apalagi punya waktu untuk mengikutinya."

Karyawan lain merasa agenda perayaan tersebut tidak lagi relevan dengan situasi tekanan target kerja saat ini. Mereka menilai kegiatan itu mengganggu fokus kerja utama.

Di sisi lain, CTO Meta Andrew Bosworth berjanji meningkatkan fasilitas area istirahat atau 'microkitchen' serta membatasi jumlah bawahan maksimal 20 orang per manajer.

Investasi Besar dan Tantangan Kompetitif

Langkah pembenahan internal ini terjadi di tengah investasi besar senilai lebih dari 14 miliar dolar AS atau sekitar Rp248 triliun untuk merekrut Alexandr Wang dari Scale AI.

Investasi tersebut berhasil meluncurkan model AI Muse Spark pada April lalu yang terhubung ke Facebook, Instagram, dan kacamata pintar Ray-Ban Meta.

Namun, posisi Meta dinilai masih berada di belakang OpenAI, Anthropic, dan Google. Nilai saham perusahaan turun 18 persen dalam setahun terakhir.

Ralph Schackart, analis di William Blair yang dikutip dari CNBC, mengatakan, "Meta perlu memberi lebih banyak bukti nyata terkait adopsi maupun komersialisasi.