Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengonfirmasi adanya anomali pada pergerakan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.

Harga komoditas itu sempat turun setelah pengumuman kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

>>> Threads Tembus 500 Juta Pengguna Aktif dan Luncurkan Fitur Communities

Amran bergerak cepat dengan menginstruksikan ratusan pabrik kelapa sawit (PKS) agar segera menaikkan harga beli.

Langkah intervensi ini melibatkan Kepolisian RI untuk memantau langsung kepatuhan seluruh PKS di lapangan.

Upaya penertiban mencatat kemajuan dengan menyisakan 130 dari total 1.900 perusahaan sawit yang belum menyesuaikan harga TBS.

Jumlah itu menyusut drastis dari pekan sebelumnya yang mencapai 274 perusahaan.

"Tapi kami sampaikan yang 274 kami langsung pada hari itu juga kami mengirim surat ke Pak Kapolri bahwa ini harus ditindaklanjuti dan langsung tembusan Kapolda di wilayah masing-masing dan Ditkrimsus ditindaklanjuti," ungkap Amran di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2026).

"Dengan surat itu, tinggal 100 lebih yang belum menaikkan harga TBS," lanjutnya.

Pemulihan harga TBS kelapa sawit diproyeksikan terealisasi sepenuhnya dalam satu minggu ke depan.

Amran menjamin bahwa sentralisasi aturan ekspor melalui PT DSI tidak akan memperburuk nilai jual komoditas di tingkat petani.

>>> Bank Indonesia Catat Aliran Modal Asing Masuk US$ 3,9 Miliar Hingga Pertengahan Juni 2026

"Tapi kami yakin satu minggu ke depan itu sudah pulih kembali dan insyaallah ke depan dengan satu pintu ini harga TBS ke depan lebih baik," ujar Amran.

Anomali pasar yang terjadi saat ini telah dilaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

Ketidakwajaran terlihat dari jatuhnya harga TBS petani ketika harga minyak sawit mentah (CPO) dunia justru naik bersamaan dengan penguatan nilai tukar Dolar AS.

"Saya katakan kepada beliau ini anomali. Harga CPO dunia naik, Dolar menguat kurang lebih 10%, harga CPO naik tetapi harga TBS turun.

Ini tidak masuk akal," ujar Amran.

Kementerian Pertanian mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh manajemen PKS di Indonesia agar tidak memanipulasi harga komoditas sawit. Sektor ini menjadi tumpuan hidup bagi jutaan masyarakat, khususnya petani plasma.

"Nah ini kami minta jangan bermain-main, jangan korbankan rakyat. Ada petani plasma itu 15 juta dengan seluruh keluarganya diperkirakan 30 juta.

>>> Kapal Migas Mulai Lintasi Selat Hormuz Pasca-Kesepakatan Damai

Kita harus, Bapak Presiden arahkan berpihak pada petani-petani plasma sawit," kata Amran.