“Jika kamu tidak menyukai mereka, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS An-Nisa: 19).

Pesan serupa juga disampaikan Rasulullah SAW. Seorang suami tidak boleh membenci istrinya hanya karena satu sifat yang kurang disukainya. Sebab, pada diri sang istri terdapat banyak kebaikan lain yang patut disyukuri.

Sering kali manusia hanya melihat keadaan saat ini, sementara Allah menyimpan hikmah yang belum diketahui. Apa yang dianggap kurang menyenangkan hari ini bisa menjadi jalan hadirnya keberkahan di masa mendatang.

Belajar dari Kisah Imam Malik

Literatur Islam mencatat kisah ayah Imam Malik bin Anas yang pada awal pernikahannya sempat merasa kurang berkenan terhadap penampilan istrinya. Namun, sang istri mengingatkannya agar tidak berprasangka buruk terhadap pilihan Allah setelah melakukan istikharah.

Nasihat sederhana itu mengubah cara pandangnya. Ia menerima istrinya dengan lapang dada dan menjalani rumah tangga dengan keridaan.

Dari pernikahan tersebut kemudian lahir Imam Malik, salah satu ulama besar yang pengaruh ilmunya terus dirasakan hingga saat ini. Kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa kebaikan yang Allah siapkan tidak selalu terlihat pada permulaan sebuah perjalanan.

Hak dan Kewajiban yang Harus Dijaga Bersama

Pernikahan merupakan hubungan yang menghadirkan hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak. Suami dan istri dituntut untuk saling menghormati, memperbaiki akhlak, serta memaafkan kekurangan masing-masing.

Suami juga perlu menjaga kehormatan keluarga dengan rasa cemburu yang proporsional. Namun, kecemburuan tidak boleh berubah menjadi prasangka berlebihan yang justru merusak ketenteraman rumah tangga.

Dalam memimpin keluarga, seorang suami hendaknya bersikap bijaksana. Tidak semua persoalan harus dibebankan kepada istri apabila hal itu hanya menambah kecemasan dan tidak membawa manfaat bagi kehidupan rumah tangga.