>>> Kementerian ESDM Matangkan Rencana Mandatori Bioetanol E5 Mulai Juli 2026

Namun, tekanan domestik lebih mendominasi di mana broker BCA Sekuritas mencatatkan net sell dari investor lokal sebesar Rp 174,5 miliar pada hari yang sama.

Hal ini memicu penurunan harga pada perdagangan sesi berikutnya.

Pelemahan saham BBCA ini juga berjalan selaras dengan kondisi pasar secara umum.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau mengalami koreksi lebih dari 1 persen saat pergerakan saham ini dilaporkan.

Sinarmas Sekuritas mencatat bahwa dinamika pasar modal dipengaruhi oleh beberapa faktor makro. Pelaku pasar tengah mengantisipasi pengumuman kebijakan suku bunga dari Bank Indonesia serta pergerakan nilai tukar rupiah.

Selain itu, terdapat kekhawatiran terkait arah suku bunga global serta potensi rebalancing menjelang review indeks MSCI.

Dua sentimen dari Bank Indonesia dan MSCI ini menjadi fokus perhatian utama pasar yang memengaruhi IHSG.

“Dengan kondisi tersebut, IHSG berisiko melemah sekitar -2% hingga -3%, sehingga strategi yang disarankan adalah bersikap wait and see apabila terjadi aksi panic selling dari aliran dana asing pada sesi pertama,” saran Sinarmas Sekuritas, Kamis (18/6/2026).

Di sisi lain, korporasi menjadwalkan pembagian dividen interim dengan total nilai Rp 2,45 triliun.

Jumlah ini setara dengan Rp 20 per lembar saham yang akan dialokasikan kepada pemegang saham yang memenuhi syarat.

Batas akhir penentuan pemegang saham yang berhak atas dividen atau tanggal daftar pemegang saham ditetapkan pada 18 Juni 2026 pukul 16.00 WIB.

>>> OJK Imbau Investor Saham Tetap Bijak Menjelang Pengumuman MSCI

Proses pembayaran dana dividen tersebut akan direalisasikan pada 26 Juni.