Pemerintah menargetkan proyek renovasi Stasiun Gambir di Jakarta Pusat rampung pada tahun 2028. Revitalisasi ini bertujuan mengintegrasikan layanan kereta jarak jauh dengan Commuter Line.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan bahwa pengembangan konektivitas antar-moda transportasi di Jakarta menjadi tujuan utama renovasi.

>>> Saham BUMI Menguat 15,75 Persen Menjelang RUPS 2026

Penumpang nantinya akan mendapatkan kemudahan akses ke berbagai moda transportasi yang saling terhubung.

"Kalau (hub perkeretaapian) almost ya. Karena di situ kan nanti bisa connect dengan beberapa stasiun, moda transportasi.

(Naik) kereta menjadi lebih mudah terjangkau, maksudnya yang naik kereta bisa nyambung LRT, malah sampai (Kereta Cepat) Whoosh dari (Stasiun) Cawang.

Kemudian bisa sampai ke bandara juga," ujar Dudy.

Pemisahan jalur baru untuk KRL akan disiapkan guna mengantisipasi kepadatan penumpang. Dudy memastikan operasional kereta jarak jauh dan Commuter Line akan tetap berjalan berdampingan tanpa saling menggantikan.

"Nggak (crowded) juga sih. Kalau kita lihat kan sebenarnya lahannya masih bisa memenuhi kapasitas.

Tentunya nanti kita sesuaikan dengan kapasitas apakah seluruh (kereta) Commuter di situ.

Tapi yang pasti bahwa itu ada (kereta) Commuter dan ada (kereta) jarak jauh yang kita satukan," jelas Dudy.

Konsep yang diusung adalah menjadikan Stasiun Gambir sebagai stasiun nasional yang merepresentasikan sistem perkeretaapian Indonesia.

>>> Chelsea Dekati Agen Marco Palestra, Bersaing dengan Man City dan Inter Milan

Dudy menepis anggapan bahwa pengembangan ini akan menggeser posisi Stasiun Manggarai sebagai stasiun sentral.

"Enggak juga. Jadi, (Stasiun Gambir menjadi) stasiun nasional.

Jadi kayak mukanya, wajahnya perkeretaapian," beber Dudy.

Rencana revitalisasi ini berjalan atas instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto. PT KAI saat ini tengah mematangkan perencanaan teknis agar target penyelesaian 2028 tercapai.

"Kalau dari KAI berharap ini bisa selesai di tahun 2028 kalau nggak salah," tutur Dudy.

Pendanaan proyek sepenuhnya berasal dari anggaran internal PT KAI dan tidak membebani APBN. Kebijakan ini berjalan beriringan dengan regulasi baru mengenai penyerahan aset stasiun dari kementerian kepada operator.

"(Anggaran dari) KAI, ya, KAI. Kita kan sedang menuju bahwa aset itu akan dikelola, akan diserahkan kepada KAI.

Sedang kita godok aturannya supaya pemisahan antara regulator dan operator menjadi lebih jelas. Modelnya bisa seperti yang Angkasa Pura.

>>> Republik Ceko vs Afrika Selatan: Perburuan Kemenangan Perdana di Grup A Piala Dunia 2026

Kemudian Airnav sudah berjalan, Pelindo," jelas Dudy.