Edi menambahkan, skenario terburuk berupa masuknya Indonesia ke daftar pantauan frontier market memiliki peluang rendah mengingat reformasi dan transparansi data yang berjalan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyebut pengumuman MSCI sebagai fokus utama pelaku pasar saat ini.

Menurutnya, peluang penurunan langsung status Indonesia dari emerging market tergolong kecil, namun perbaikan aksesibilitas pasar harus segera dituntaskan.

Antisipasi Kenaikan Suku Bunga BI

Selain MSCI, perhatian pasar juga tertuju pada RDG Bank Indonesia. Konsensus memperkirakan adanya kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Nico berpendapat langkah pengetatan moneter diperlukan untuk mengamankan stabilitas nilai tukar rupiah dan mendongkrak daya tarik aset domestik di tengah gejolak global.

>>> BRI Salurkan KUR Pertanian Rp 35,91 Triliun hingga Mei 2026

Namun, instrumen moneter tidak bisa bekerja sendirian. Jika suku bunga naik tetapi persoalan fiskal belum terselesaikan, inflow asing tetap masuk namun terbatas.

Investor global masih mencermati stabilitas kebijakan fiskal nasional sebagai indikator utama investasi.

Di pasar obligasi, kenaikan suku bunga BI berpeluang mempertahankan daya tarik Surat Berharga Negara (SBN) dan menopang rupiah jangka pendek.

Faktor eksternal dari kebijakan Federal Reserve juga menjadi perhatian. Mayoritas pelaku pasar menduga The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan.

Nico melihat meredanya tekanan inflasi di AS akibat penurunan harga minyak membuat ruang The Fed untuk menaikkan suku bunga semakin terbatas.

Tactical Relief dan Strategi Investasi

Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi, menganggap pemulihan IHSG merupakan fase tactical relief setelah tertekan hebat.

Kombinasi melambatnya aksi jual asing, penguatan rupiah, dan penurunan premi risiko geopolitik menjadi penopang membaiknya sentimen pasar.