Seorang warga Kinshasa bernama Pitshou mengatakan kepada rfi. fr bahwa perusahaan bir lokal menyediakan generator untuk bar agar siaran tidak terputus akibat pemadaman listrik.

>>> Kiper Tanjung Verde Vozinha Tahan Imbang Spanyol di Piala Dunia 2026

Warga berkomitmen tetap menyaksikan perjuangan tim nasional meski menghadapi kendala teknis.

Michel, seorang pendukung Kongo, menyatakan akan menonton apa pun yang terjadi.

"Sudah terlalu lama kami menunggu melihat Kongo di Piala Dunia, saya akan hadir apa pun yang terjadi," ujarnya.

Dukungan besar juga terlihat dari atribut bermotif macan tutul yang ramai dikenakan masyarakat di pusat kota.

Généreuse, seorang penggemar wanita di Kinshasa, mengatakan bahwa motif itu disebut "tache-tache" atau "nkoyi" dalam bahasa Lingala, dan memakai motif macan tutul adalah keharusan.

Momen olahraga ini dinilai menjadi sarana pemersatu bangsa di tengah konflik internal.

Roland, seorang warga setempat, mengatakan bahwa sepak bola adalah salah satu hal yang lebih menyatukan daripada memecah belah.

Seluruh elemen masyarakat dan tokoh politik dilaporkan melebur dalam dukungan yang sama untuk tim nasional. "Kami butuh sedikit mimpi," ungkap seorang warga Kongo lainnya kepada rfi.

fr.

Para remaja di Kinshasa juga mengagumi penampilan fisik dan seragam resmi tim nasional yang bermotif khas.

Prudence, seorang siswi sekolah di Kinshasa, mengatakan bahwa mereka adalah yang terbaik dalam berpakaian.

>>> Argentina Hajar Aljazair 3-0 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Selain laga Grup K, hari ketujuh Piala Dunia 2026 juga menampilkan pertandingan lain seperti Inggris melawan Kroasia, Ghana menghadapi Panama, serta Uzbekistan yang ditantang Kolombia.