Saya tak tahu, mungkin kalian pikir hal tersebut normal," tutur Infantino.

Ia menambahkan bahwa regulasi ketat tersebut berkaitan erat dengan faktor keamanan yang menjadi prioritas utama negara tuan rumah.

"Dunia ini adalah dunia yang sangat agresif dan keamanan ada di atas segalanya. Kalian harus menghormati keputusan tersebut," tutur Infantino melanjutkan.

Kritik Standar Ganda dan Diplomasi Iran

Situasi ini memicu sorotan publik mengingat kebijakan berbeda diambil FIFA saat mencabut status tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 dari Indonesia akibat gelombang penolakan terhadap timnas Israel.

Kritik media Barat mengenai jalannya kompetisi saat ini juga memicu respons defensif dari Infantino yang membandingkannya dengan Piala Dunia 2022 di Qatar.

"Today I have strong feelings.

Today I feel Qatari, I feel Arab, I feel African, I feel gay, I feel disabled, I feel a migrant worker," tutur Infantino.

Ia menilai ada motif standar ganda dari negara-negara Eropa dalam melihat dinamika reformasi di negara lain.

"I have difficulties understanding the criticism.

We have to invest in helping these people, in education and to give them a better future and more hope.

We should all educate ourselves. Many things are not perfect but reform and change takes time," kata Infantino.

Ia mempertanyakan alasan kritik sepihak tersebut terus bergulir di tengah berbagai perkembangan yang ada.

"This one-sided moral lesson is just hypocrisy. I wonder why no-one recognises the progress made here since 2016," ujar Infantino.

Selain masalah visa wasit, perhatian juga tertuju pada timnas Iran yang sempat lama menunggu visa masuk dan tidak diperkenankan bermalam di Amerika Serikat, sehingga harus pulang-pergi dari Tijuana, Meksiko.