Pemodal global kini terindikasi menggeser strategi ke arah portofolio defensif.

>>> Swiss-Belboutique Yogyakarta: Hotel Bintang 4 dengan Fasilitas MICE Lengkap

Porsi overweight untuk instrumen saham global menyusut dari 50 persen menjadi 38 persen, dan eksposur pada sektor teknologi melorot dari 33 persen ke posisi 26 persen.

Sebaliknya, alokasi ke Jepang, sektor material dan perbankan meningkat.

Posisi long saham semikonduktor global menjadi crowded trade terbesar sepanjang sejarah survei dengan 80 persen responden menempatkannya sebagai posisi paling ramai.

Pada komoditas, harga minyak dunia terpantau kembali merosot menjelang seremoni penandatanganan kesepakatan MoU antara AS dan Iran di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan jalur Selat Hormuz bakal beroperasi penuh mulai Jumat pekan ini.

Proses negosiasi lanjutan dijadwalkan bergulir selama 60 hari ke depan, walaupun beberapa poin kesepakatan terperinci dinilai masih abu-abu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan melayangkan keberatan atas kesepakatan tersebut.

Keberatan muncul karena poin perjanjian dinilai belum menghapus program rudal balistik serta jaringan milisi pro-Iran di kawasan secara menyeluruh.

Dari sentimen dalam negeri, pasar sedang mencermati agenda Global Market Accessibility Review oleh MSCI serta proses rebalancing indeks FTSE pada Jumat, 19 Juni 2026.

Perhatian juga tersedot pada RDG Bank Indonesia pada Kamis, 18 Juni 2026 yang diproyeksikan menaikkan BI Rate sebesar 25 bps ke level 5,75 persen.

Selain itu, pemerintah memiliki agenda menerbitkan instrumen Panda Bonds yang direncanakan pada akhir Juni atau awal Juli 2026.

Pemerintah kini tengah mengukur tingkat ketertarikan serta respons dari para investor terlebih dahulu.

>>> Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian 17 Juni 2026 Stabil

Langkah penerbitan Panda Bonds tersebut dipersiapkan dengan misi strategis untuk menekan ketergantungan nasional terhadap mata uang dolar AS sekaligus menjaga resiliensi nilai tukar rupiah.