Kondisi duka tersebut jarang dibicarakan oleh Saliba karena merupakan hal yang sangat berat bagi dirinya, sebagaimana dikonfirmasi oleh salah satu teman masa kecilnya, Ateef Konaté, mantan gelandang Nottingham Forest.

"It was something we rarely talked about, it was so hard for him," kata Ateef Konaté.

Saliba mengakui bahwa kedatangannya di London dalam kondisi kebugaran yang kurang ideal akibat penghentian kompetisi Ligue 1 Prancis selama pandemi COVID-19 membuat tahun pertamanya menjadi periode terburuk.

"With the loss of my mother, nothing was going right and everything was difficult. It was the worst year of my life," kata William Saliba.

Manajer Arsenal, Mikel Arteta, yang tidak terlibat dalam proses pembelian Saliba setahun sebelumnya, sempat memberi tahu sang bek bahwa ia belum masuk dalam rencana jangka pendek tim untuk musim 2020-2021.

Agen Saliba, Djibril Niang, mengenang situasi tersebut sebagai pukulan berat yang tidak hanya berdampak pada karier sepak bola kliennya tetapi juga pada kondisi mentalnya secara keseluruhan.

"At that moment, everything came flooding back. It wasn’t just the sporting sanction that was hurting him, but everything else," kata Djibril Niang.

Saliba kemudian dikirim untuk bermain bersama tim cadangan Arsenal dan tidak didaftarkan dalam kompetisi Liga Europa pada musim pertamanya di luar negeri.

"With all due respect to anyone, it wasn’t the Arsenal of today. I cost €30m and I found myself playing with the U23s.

It was tough, my mood was really low because I knew that, even if I trained well, I wouldn’t play," kata William Saliba.

Transformasi Menjadi Bek Elite