Selain itu, sengketa Laut China Selatan, isu kedaulatan Taiwan, dan persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI) memperkuat penilaian analis bahwa rivalitas ini mencerminkan pola Thucydides Trap.

Peluang Menghindari Konflik Terbuka

Meskipun teori ini memetakan risiko konflik yang tinggi, sejumlah pakar menyatakan bahwa perang bukanlah sebuah kepastian.

Sejarah mencatat beberapa kasus di mana negara yang sedang bangkit dan negara dominan berhasil menghindari perang melalui jalur diplomasi, kerja sama ekonomi, dan penyelarasan kepentingan.

Para pengamat menilai interaksi AS dan China saat ini masih berada pada koridor kompetisi strategis, bukan mengarah pada perang terbuka.

Kritik Terhadap Teori

Teori Thucydides Trap juga menuai kritik karena dianggap terlalu menyederhanakan kompleksitas hubungan internasional modern.

Kondisi global saat ini dinilai jauh berbeda dengan era Yunani kuno karena kehadiran globalisasi ekonomi dan organisasi internasional.

Faktor lain seperti kepemilikan senjata nuklir, ketergantungan perdagangan antarnegara, serta diplomasi multilateral turut membuka ruang bagi penyelesaian yang damai.

Pemahaman terhadap Thucydides Trap tetap krusial karena membantu menjelaskan dampak persaingan negara besar terhadap ekonomi dan keamanan global.

>>> GEA Aesthetic dan Croma&Pharma Luncurkan PolyPhil, Perawatan Kulit Alami Berbasis DNA Ikan Trout

Ketegangan AS dan China dapat memengaruhi negara berkembang termasuk Indonesia, mulai dari stabilitas rantai pasok, investasi, hingga fluktuasi nilai tukar mata uang.