Ketegangan politik menyelimuti pertandingan perdana Iran dalam Piala Dunia 2026 di Stadion SoFi, Los Angeles, pada Selasa (16/6/2026).

Gelombang demonstran antipemerintah memadati area luar stadion sesaat sebelum peluit pertama ditiup.

>>> Tujuh Prinsip Koperasi Berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 1992

Aksi ini membuktikan bahwa sepak bola tidak pernah benar-benar lepas dari konflik geopolitik dunia.

Massa memanfaatkan sorotan media internasional untuk menyuarakan penolakan terhadap legitimasi Republik Islam Iran.

Mereka mendesak adanya perubahan total atas kepemimpinan di negara asal mereka.

Yel-yel bernada politis menggema keras di tengah kerumunan suporter yang hendak memasuki stadion.

Beberapa kelompok massa bahkan membawa pesan spesifik yang meminta intervensi politik global.

Rekaman video menunjukkan demonstran meneriakkan, "Presiden Trump, selesaikan tugasmu!"

Pekikan lain yang tidak kalah nyaring berbunyi, "tidak ada lagi Republik Islam!"

Tuntutan ini didasari atas akumulasi kemarahan publik terhadap rekam jejak pelanggaran hak asasi manusia.

Rezim yang berkuasa dianggap telah merampas kebebasan warga sipil secara sewenang-wenang.

"Saya di sini untuk memprotes Republik Islam di Iran, rezim teroris pembunuh yang kejam yang selama 40 tahun terakhir telah membunuh dan menyiksa dan memenjarakan banyak orang di negara kami," kata Iman Foroutan, kepala arsitek sistem di lembaga swadaya masyarakat hak asasi manusia SOS Iran Profit kepada Reuters.

Simbol perlawanan juga diperlihatkan melalui pengibaran atribut historis yang sarat makna politis.

Bendera dengan gambar Matahari dan Singa tampak mendominasi barisan para demonstran.

Atribut kuno tersebut merupakan simbol resmi negara sebelum terjadinya pergolakan besar pada tahun 1979.

Penggunaan identitas lama ini menegaskan penolakan total terhadap simbol pemerintahan yang sekarang.