Pemerintah meningkatkan penyerapan komoditas telur dan daging ayam melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menahan penurunan harga di tingkat peternak.

Langkah strategis ini diambil demi menjaga stabilitas harga pangan di level acuan sekaligus menjamin keberlanjutan usaha sektor perunggasan nasional.

>>> Pemerintah Tetapkan Hari Kartini 2026 Bukan Hari Libur Nasional

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan perlunya kehadiran negara agar harga produk pangan di produsen tetap sesuai dengan Harga Acuan Pembelian (HAP).

"Harga yang turun, tidak kalah pentingnya. Ini (peternak unggas) kesulitan.

Telur turun drastis. Harga di peternak itu (bisa) Rp 18.000 sampai 20.000 per kilo.

Kemudian ayam juga turun drastis," ungkap Amran, dikutip Selasa (16/6/2026).

Upaya stabilitas harga tersebut diwujudkan lewat koordinasi intensif dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menambah frekuensi konsumsi produk unggas dalam menu program makanan tersebut.

"Kami sudah koordinasi.

MBG agar konsumsi telur dan ayamnya dinaikkan dari satu kali per minggu, kalau bisa tiga kali per minggu.

Kami komunikasi langsung dengan Kepala BGN (Badan Gizi Nasional) agar segera realisasikan konsumsi telur ayam, (sehingga) bisa menjadi alat kontrol untuk mengontrol harga pangan," kata Amran.

Perkembangan Harga di Tingkat Peternak

Data Bapanas per 15 Juni 2026 menunjukkan harga rata-rata nasional ayam broiler di peternak mulai membaik ke angka Rp 22.107 per kilogram (kg), naik 0,56% dari hari sebelumnya.

>>> Masalah Visa Paksa Skuad Timnas Iran Pulang Pergi Meksiko Selama Piala Dunia 2026

Harga terendah berada di Sumatera Selatan sebesar Rp 18.438 per kg, sedangkan harga tertinggi di Riau mencapai Rp 27.000 per kg dan telah melampaui HAP peternak sebesar Rp 25.000 per kg.