Dalam studi terpisah, tim meneliti CT scan dan hasil klinis dari lebih dari 1.200 pasien kanker yang menjalani imunoterapi.

Pasien dengan timus yang lebih sehat cenderung merespons pengobatan lebih baik, dengan risiko perkembangan kanker 37% lebih rendah dan risiko kematian 44% lebih rendah.

Peneliti menekankan bahwa temuan ini menunjukkan peran timus yang sebelumnya kurang diakui dalam efektivitas imunoterapi modern.

Meski demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi hasil ini.

Teknik pencitraan yang digunakan untuk mengukur kesehatan timus juga belum siap digunakan secara rutin dalam praktik klinis.

Studi ini tidak menguji apakah mengubah faktor gaya hidup dapat langsung memperbaiki fungsi timus.

Tim peneliti terus menyelidiki pengaruh lain terhadap kesehatan timus, termasuk paparan radiasi yang tidak disengaja selama pengobatan kanker paru.

>>> BSI Lunasi Sukuk Mudharabah Rp 220 Miliar Tepat Waktu

"Memahami dan memantau kesehatan timus pada akhirnya dapat membantu dokter menilai risiko penyakit dan memandu keputusan pengobatan," kata Hugo Aerts, penulis utama studi.