Ritual ini bermakna sebagai sarana membersihkan diri dari segala bentuk energi negatif yang melekat pada manusia. "Bahwasanya manusia memiliki kekotoran dalam pikiran maupun dalam hati.

>>> Ramadhipa Ungkap Rahasia Mental Juara di Moto3 Junior Estoril

Maka pada momentum malam satu Suro ini kita membersihkan diri," kata Ernantoro.

Pembersihan batin dan pikiran menjadi poin utama dalam ritual ini, bukan sekadar penyucian fisik semata.

Oleh karena itu, seluruh peserta dewasa yang berjumlah sekitar 35 orang dianjurkan untuk berpuasa Senin Kamis terlebih dahulu.

"Pesertanya ada sekitar 35 orang. Ada perempuan, laki-laki juga.

Mereka orang dewasa semua yang ikut ruwatan," ujarnya.

Setelah prosesi ruwatan selesai, kegiatan diteruskan dengan proses warangan atau pembersihan keris agar kondisinya tetap terawat. Peserta juga menerima wejangan khusus sebagai pengingat untuk terus memperbaiki perilaku.

Ernantoro mengungkapkan bahwa tradisi ritual ini sudah konsisten berjalan sejak tahun 1995. Banyak peserta yang datang bahkan berasal dari luar wilayah Rembang.

"Alhamdulillah masih berjalan sampai sekarang. Banyak yang datang dari luar daerah juga untuk ikut ruwatan," kata dia.

Sebagian besar peserta memandang ritual ini sebagai medium introspeksi dan permohonan keselamatan. Salah satu warga Sumbergirang, Sugiono, mengaku sudah empat kali mengikuti ruwatan menjelang malam 1 Suro.

"Niatnya untuk membersihkan diri dari kotoran hati dan tolak bala. Harapannya dijauhkan dari kesialan selama setahun ke depan," ujar Sugiono.

Harapan serupa juga disampaikan oleh Abdul Wahab, warga Desa Ketangi, Kecamatan Pamotan. Menurutnya, momentum satu Suro memiliki makna mendalam bagi masyarakat Jawa untuk memperbaiki diri dan memohon perlindungan.

"Momentum satu Suro bagi orang Jawa memiliki makna tersendiri. Karena itu dimanfaatkan untuk membersihkan hati melalui ruwatan," kata Wahab.

>>> Mengenal Jalur Domisili Khusus dalam SPMB Jateng 2026

"Dengan begitu diharapkan dapat terhindar dari kesialan atau hal-hal buruk. Istilah orang Jawa itu tolak balak," ujar dia.