Pada abad ke-19, pemerintah kolonial membawa unta untuk membantu proyek pembangunan jalur telegraf yang membelah gurun kering Australia.

Untuk mengoperasikannya, mereka mendatangkan pawang dan pengendara unta dari wilayah yang sekarang menjadi Afghanistan dan Pakistan. Petaka dimulai ketika era transportasi berganti ke kendaraan bermotor.

Unta-unta ini dilepaskan begitu saja ke alam liar karena dianggap tak lagi dibutuhkan. Tanpa predator alami dan minim kompetitor di pedalaman Australia yang kering, unta-unta ini sukses beradaptasi.

Akibatnya, terjadi ledakan populasi yang masif dalam waktu satu abad.

Picu Krisis Lingkungan dan Air

Ledakan populasi ini akhirnya disadari menjadi ancaman serius bagi ekosistem lokal. Sebelum kedatangan unta, mamalia terbesar di benua tersebut hanyalah kanguru.

Kerakusan unta dalam mengonsumsi vegetasi lokal membuat tumbuhan asli Australia habis dengan cepat. Hal ini memicu krisis pangan bagi spesies endemik lain, termasuk hewan yang terancam punah.

Tak hanya merusak rantai makanan, unta dikenal mampu menenggak air dalam jumlah masif setelah berhari-hari menahan haus. Dampaknya, banyak sumber air alami di pedalaman Australia mengering.

Hal ini memicu krisis air bersih bagi satwa liar lainnya hingga komunitas manusia di sekitar kawasan tersebut.

Meski pemerintah Australia sempat menggelar program penyembelihan massal dan berhasil mengeliminasi sekitar 100.000 ekor unta, angka tersebut dinilai belum cukup.

Populasi unta liar kini diperkirakan sudah mencapai ratusan ribu hingga jutaan ekor di wilayah tengah Australia. Namun, kehadiran mereka tidak sepenuhnya membawa dampak buruk.

Aktivitas unta yang memakan rumput semak di pedalaman dinilai sedikit membantu membatasi peredaran rumput liar.

>>> PLN Rilis Tarif Listrik per kWh Periode 16-21 Juni 2026, Tidak Ada Perubahan

Secara tidak langsung, hal ini ikut menekan potensi penyebaran kebakaran lahan yang kerap menghantui Australia.