Komoditas energi tersebut jatuh ke level paling rendah sejak Maret setelah tercapai kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk meredakan konflik sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.

Faktor kebijakan dalam negeri Malaysia juga tidak memberikan stimulus bagi aktivitas ekspor.

Penurunan harga referensi minyak sawit mentah untuk bulan Juli membuat tarif bea ekspor bertahan di level 10%, yang dinilai kurang kompetitif untuk mendongkrak volume pengiriman.

Meski dikepung sentimen negatif, penurunan harga CPO ini tertahan oleh perbaikan data permintaan dari negara pembeli.

Laporan lembaga survei kargo menunjukkan volume pengiriman minyak sawit pada rentang waktu 1 hingga 10 Juni tumbuh berkisar 3,5% sampai 4,9% jika disandingkan dengan periode yang sama pada Mei.

Kondisi pasar juga mendapatkan topangan dari aspek risiko cuaca global.

Pemerintah Malaysia telah mengeluarkan peringatan resmi mengenai potensi fenomena El Nino yang diprediksi bisa memotong kapasitas produksi sawit nasional sebesar 8% hingga 10% sepanjang tahun ini.

Dari sisi negara importir, India selaku konsumen terbesar minyak sawit dunia mencatatkan kenaikan tipis volume impor pada Mei setelah sempat menyentuh level terendah dalam empat bulan pada April.

Walakin, angka pembelian tersebut masih berada di bawah rata-rata normal.

Banyak perusahaan pengolahan atau rafinasi di India yang lebih memilih untuk beralih membeli minyak kedelai.

>>> Real Madrid Incar Enzo Fernandez Usai Resmi Rekrut Marc Cucurella

Langkah ini diambil karena harga minyak kedelai dinilai lebih ekonomis di tengah menyempitnya jarak atau premi harga dengan minyak sawit.