Pemerintah menyiapkan paket stimulus bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah atau desil 4 ke bawah.

Langkah ini diambil untuk meredam tekanan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax.

>>> Timnas Iran Bidik Sejarah Lolos ke Babak Gugur Piala Dunia 2026

Kebijakan tersebut dirancang untuk menjaga daya beli masyarakat yang rentan terdampak. Kenaikan harga Pertamax berpotensi memicu kenaikan biaya transportasi serta distribusi barang dan jasa.

Meski harga BBM nonsubsidi berfluktuasi, pemerintah berkomitmen mempertahankan subsidi untuk Pertalite dan program biodiesel 50 (B50).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa bantuan difokuskan pada masyarakat kelas bawah.

"Ya pertama kan BBM yang kita pertahankan kan jenis Pertalite dan B50. Terus kemudian kita siapkan yang untuk kelas menengah ke bawah, desil 4 ke bawah," kata Airlangga.

Pemerintah saat ini belum merinci bentuk definitif dari stimulus tersebut. Namun, dipastikan sasarannya bukan kelompok masyarakat kelas menengah.

"Bukan yang di menengah tetapi yang di bawah," ujar Airlangga.

Di samping menyiapkan stimulus domestik, pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak menunjukkan tren penurunan setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

"Ya pertama tentu kita monitor karena harga minyaknya akan turun lagi ke sekitar US$ 83, tetapi kan semua ini baru selesai sudah ditandatangani.

Jadi sebelum ditandatangani kita tetap konservatif," kata Airlangga.

>>> Arab Saudi Tantang Uruguay di Laga Pembuka Grup H Piala Dunia 2026

Penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh PT Pertamina (Persero) telah berlaku sejak 10 Juni 2026. Berikut daftar kenaikan harga BBM nonsubsidi per 10 Juni 2026: