Ketika pasar saham tiba-tiba anjlok, banyak investor panik dan menjual aset dengan harga murah. Namun, Warren Buffett justru melihat krisis sebagai peluang emas.

Investor legendaris sekaligus CEO Berkshire Hathaway ini memiliki lima prinsip utama yang membantunya tetap tenang dan meraih keuntungan saat pasar bergejolak.

>>> IHSG Melejit 4,12 Persen di Tengah Jual Bersih Asing Rp 106 Miliar

Lima Prinsip Buffett saat Pasar Anjlok

Pertama, tetap tenang dan jangan menjual karena panik. Buffett mengingatkan bahwa pasar saham dirancang untuk memindahkan uang dari orang yang aktif kepada orang yang sabar.

Kedua, bersikap serakah saat orang lain takut, dan takut saat orang lain serakah. Prinsip ini mendorong investor untuk membeli saham bagus di harga rendah ketika ketakutan melanda.

Contohnya, pada krisis 2008, Buffett menyuntikkan US$5 miliar ke Goldman Sachs saat banyak investor menjual saham.

Ketiga, fokus pada nilai fundamental, bukan harga saham. Penurunan harga tidak selalu mencerminkan penurunan nilai bisnis.

Nilai sejati perusahaan tidak berubah hanya karena sentimen jangka pendek.

>>> TNI AU Usung Tema Pengabdian Tanpa Batas di HUT ke-80

Keempat, jangan mencoba menebak arah pasar. Buffett menolak pendekatan spekulatif karena tidak ada yang bisa memprediksi pasar secara akurat.

Ia lebih memilih strategi jangka panjang, seperti memegang saham Coca-Cola selama lebih dari tiga dekade.

Kelima, simpan uang tunai untuk peluang. Uang tunai adalah amunisi finansial.

Berkshire Hathaway selalu menjaga cadangan kas besar untuk membeli saham berkualitas saat pasar lesu.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, investor tidak hanya bisa bertahan di tengah kepanikan, tetapi juga berpotensi meraih keuntungan besar saat orang lain diliputi ketakutan.

>>> Dani Olmo Catat Penampilan Ke-50 Bersama Timnas Spanyol

Mengelola emosi, memahami nilai bisnis, dan berpikir jangka panjang adalah fondasi yang membedakan spekulan dari investor sejati.