Harga emas batangan mencatat lonjakan signifikan hingga menembus Rp 2.487.000 per gram pada Selasa (21/10/2025).

Kenaikan ini menarik perhatian investor berpengalaman maupun masyarakat umum yang mencari investasi jangka panjang.

>>> Vivo V70 FE 5G vs Samsung Galaxy A37 5G: Duel Ponsel Rp6 Jutaan dengan RAM 8GB

Emas dinilai memiliki stabilitas tinggi karena nilainya cenderung bertahan dari inflasi. Bagi sebagian kalangan, kepemilikan logam mulia bukan sekadar tabungan, melainkan strategi mempertahankan daya beli di masa depan.

Faktor Pendorong Kenaikan Harga Emas

Dosen FEB UGM Rijadh Djatu Winardi menjelaskan bahwa keputusan membeli emas saat harga tinggi bergantung pada profil risiko dan tujuan investasi.

Ia menyebut potensi kenaikan masih terbuka menjelang pengumuman Federal Reserve.

The Fed dijadwalkan menggelar rapat pada 28–29 Oktober dan diperkirakan memangkas suku bunga acuan sebesar seperempat poin ke kisaran 3,75–4 persen.

Langkah ini diproyeksikan terjadi karena indikasi pelemahan pasar tenaga kerja AS.

Pelonggaran kebijakan moneter biasanya berdampak positif bagi harga emas global.

Ketika suku bunga turun, imbal hasil aset berbunga seperti obligasi menjadi kurang menarik, sehingga biaya peluang memegang emas lebih rendah.

>>> Investor China Kucurkan Rp 15 Triliun ke Industri Kendaraan Listrik Kendal

Penurunan suku bunga juga cenderung melemahkan dollar AS, yang mendorong apresiasi nilai emas dunia. Karena harga domestik mengacu pada pasar global, potensi kenaikan masih terbuka.

Strategi Pembelian untuk Investor

Rijadh merekomendasikan pembelian emas untuk jangka panjang dilakukan secara bertahap. Sebagian modal dapat dialokasikan saat harga mengalami koreksi atau penurunan.

Penasihat keuangan James Gerrard menyarankan porsi investasi emas bagi investor jangka panjang kasual dibatasi 2 hingga 3 persen dari total portofolio.

Strategi ini dikombinasikan dengan menunggu hingga harga mulai mendingin.

CEO VanEck Australia Arian Neiron menilai lonjakan minat terhadap emas mencerminkan ketidakpastian global yang mendorong investor beralih ke aset aman.

Selain fisik batangan, reksa dana berbasis emas atau ETF menjadi alternatif populer.

>>> Waskita Karya Catat 7,5 Juta Jam Kerja Selamat di Proyek LRT Jakarta

Produk seperti VanEck Gold Bullion ETF dan Perth Mint Gold (PMGOLD) mencatat aliran dana masuk besar dengan total aset kelolaan lebih dari 6 miliar dollar AS.