Sejumlah wilayah di Pulau Jawa mengalami pemadaman listrik dalam beberapa hari terakhir. Gangguan ini dipicu oleh dua kendala utama pada sistem pembangkit.

Kendala pertama adalah force outage, yaitu gangguan mendadak yang tidak direncanakan. Kedua adalah derating, yakni penurunan kapasitas produksi daya.

>>> Promo Indomaret 16-22 April 2026: Diskon Frisian Flag hingga Sabun Cuci Piring

Pengamat sekaligus pakar sistem tenaga listrik STEI ITB, Kevin Marojahan Banjar, mengungkapkan bahwa menipisnya cadangan batubara atau minyak memaksa operator memangkas daya pembangkit hingga 60 persen.

"Jika dipaksa 100 persen dan bahan bakar habis, PLTU butuh waktu hingga 2 hari untuk menyala kembali," papar Kevin dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).

>>> Swedia Hancurkan Tunisia 5-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Langkah pengurangan beban melalui pemadaman bergilir terpaksa diambil saat beban puncak. Prosedur ini diterapkan demi menjaga ketersediaan cadangan daya dalam sistem sekaligus menghindari mati total atau total blackout.

Ancaman El Nino Godzilla

Kondisi ketersediaan listrik terancam semakin tertekan oleh datangnya fenomena cuaca ekstrem El Nino Godzilla. Lonjakan suhu udara diperkirakan memicu peningkatan penggunaan pendingin ruangan sehingga konsumsi listrik meningkat tajam.

>>> Bielsa Evaluasi Tim Medis Uruguay Usai Cedera Ronald Araujo

Di sisi lain, kekeringan parah akibat fenomena tersebut juga berpotensi menurunkan debit air. Situasi ini mengancam produktivitas PLTA besar di Jawa Barat seperti Cirata dan Saguling.