Mayoritas analis memberikan pandangan positif terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) setelah perusahaan mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback senilai maksimal Rp500 miliar.

Program buyback fluktuatif ini dijadwalkan berlangsung mulai 12 Juni 2026 hingga 11 September 2026.

>>> Besok Libur Nasional Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Pemerintah Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Tanggal Merah

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyatakan bahwa keputusan buyback didasarkan pada penilaian bahwa harga saham BBRI saat ini masih di bawah nilai wajar.

"Kami menilai valuasi BBRI saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau belum sepenuhnya merefleksikan kinerja dan potensi bisnis perseroan," kata Dhanny dalam keterangan resmi, Senin (15/6/2026).

Perseroan memastikan aksi korporasi ini telah melalui kajian internal mendalam terkait likuiditas dan struktur permodalan. Langkah tersebut diyakini tidak akan mengganggu operasional maupun ekspansi bisnis ke depan.

Berdasarkan data konsensus analis Bloomberg per 15 Juni 2026, sebanyak 30 analis atau 83,3% merekomendasikan buy untuk saham BBRI.

Sementara itu, 4 analis (11,1%) menyarankan hold, dan 2 analis (5,6%) memberikan rekomendasi jual.

Target harga rata-rata 12 bulan saham BBRI berada di level Rp4.094 per saham, lebih tinggi dibandingkan harga terakhir Rp3.020 per saham.

Dengan demikian, potensi kenaikan mencapai sekitar 35,6% dalam setahun.

Sejumlah sekuritas global dan domestik mempertahankan pandangan positif.

>>> Waspadai Perubahan Warna Urine yang Menandakan Kerusakan Ginjal

Analis Citi dan UBS memberikan rekomendasi buy dengan target harga masing-masing Rp4.400 dan Rp4.300 per saham.

Dalam riset UBS, analis Joshua Tnja, Ivan Reynaldo Sutheja, dan Elisabeth Angelina Inggriani menyebutkan bahwa pada target harga Rp4.300, BBRI akan diperdagangkan pada valuasi sekitar 2,2 kali PBV 2027E dan 11 kali PER 2027E.