Musim wisuda di Amerika Serikat diwarnai aksi protes mahasiswa terhadap petinggi perusahaan teknologi. Kali ini, CEO Google Sundar Pichai menjadi sasaran saat menyampaikan pidato kelulusan di Universitas Stanford.

Lebih dari 100 lulusan serentak berdiri dan berjalan menuju pintu keluar saat Sundar Pichai baru memulai pidatonya. Aksi walkout massal ini diiringi sorakan protes dari para mahasiswa.

>>> Bahlil Usul Volume BBM Subsidi 19,56 Juta KL untuk RAPBN 2027

Para wisudawan meneriakkan desakan kebebasan untuk Palestina serta ungkapan kekecewaan kepada pemimpin Google tersebut. Sundar Pichai tetap melanjutkan pembacaan naskah pidatonya di tengah riuh aksi unjuk rasa.

Penyebab Protes Mahasiswa

Aksi penolakan keras ini dipicu oleh keterlibatan Google dengan pemerintah dan militer Israel, bukan terkait kontroversi kecerdasan buatan.

Terdapat dua isu utama yang menjadi dasar mosi tidak percaya para mahasiswa.

Penyebab pertama adalah Proyek Nimbus, kontrak gabungan senilai USD 1,2 miliar antara Google, Amazon, dengan militer dan pemerintah Israel.

Melalui kerja sama ini, Google menyediakan layanan komputasi awan dan teknologi AI tingkat lanjut.

Proyek Nimbus menuai kecaman luas dari berbagai pihak, termasuk Electronic Frontier Foundation, karena dinilai minim transparansi.

Isu ini memicu respons negatif yang masif dari kalangan akademisi dan staf internal perusahaan.

Faktor kedua adalah kerja sama Google dengan Badan Penegakan Bea Cukai dan Imigrasi AS (ICE).

>>> Kebakaran Rumah Anisa Rahma dan Anandito Dwis Picu Renovasi Bertahap

Beberapa wisudawan membentangkan spanduk protes yang menyinggung keterlibatan raksasa teknologi tersebut dengan lembaga federal itu.

Sebelumnya pada bulan Februari, sebanyak 900 staf Google mendesak transparansi manajemen terkait kekhawatiran penyalahgunaan teknologi. Mereka khawatir sistem komputasi Google digunakan untuk memfasilitasi tindakan keras terhadap imigran.