Kiai Imam menambahkan, pembenahan internal pesantren perlu didesain secara sistematis demi memenuhi tuntutan publik sekaligus memperkuat posisi tawar pesantren ke depan.

Dirinya optimis gerakan kolektif ini bakal merevolusi peta pendidikan Islam di tingkat nasional.

"Saya yakin, jika 5.000 pengasuh pesantren seluruh Indonesia menjalankan gagasan perubahan yang muncul di workshop ini, tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya, pesantren akan menjadi top of the mind masyarakat," ungkapnya.

Langkah taktis yang diinisiasi sejak awal diyakini mampu membuka ruang bagi para lulusan pesantren untuk mengisi pos-pos strategis dalam agenda pembangunan nasional.

"Selain itu, saat para kiai berani melakukan perubahan sejak dini, maka alumni pesantren juga akan menempati posisi-posisi sentral dan strategis dalam pembangunan Indonesia masa depan," tuturnya.

Respons positif juga datang dari KH Baihaqi selaku Pengasuh Pesantren Raudhatul Jannah, Rembang.

Ia menganggap pokok bahasan yang disajikan memberikan cara pandang baru yang visioner bagi para pembuat kebijakan di pesantren, sekaligus menjadi batu loncatan yang efektif.

Sementara itu, KH Rosikh Roghibi dari Pondok Pesantren Ma'hadul Ilmi Asy-Syar'i Karangmangu mengaku mendapat formulasi operasional yang siap diimplementasikan setelah mempelajari rekam jejak pengelolaan lembaga yang dipaparkan.

"Saya semakin pe-de dan semakin bisa membayangkan langkah-langkah perubahan setelah menyimak bagaimana Kiai Imam Jazuli membongkar lika-likunya dalam merintis dan membesarkan Bina Insan Mulia," ujarnya.

Melihat tingginya minat peserta, Ketua Panitia Workshop, Ubaydillah Anwar, mengonfirmasi adanya penyesuaian jadwal untuk mempercepat pencapaian target program nasional tersebut.

Agenda yang semula direncanakan rampung pada akhir tahun, kini dimajukan dan dipadatkan sepanjang Juli hingga Agustus 2026.

"Semula workshop ini kami laksanakan sepekan sekali, tapi nanti di bulan Juli-Agustus, workshop akan kami laksanakan three kali sepekan," kata Ubaydillah.

Langkah akselerasi ini ditargetkan mampu menjaring 5.000 pengasuh pesantren dari berbagai daerah sebelum akhir Agustus 2026, sehingga cetak biru transformasi dapat langsung diterapkan pada kalender akademik baru.

>>> Pakar Kesehatan Nilai Risiko Penyakit Menular di Piala Dunia 2026 Rendah

"Tujuan kami supaya 5.000 pesantren telah mengikuti workshop semua di akhir Agustus 2026 sehingga dapat bertransformasi di tahun ajaran baru 2026/2027 ini," tegasnya.