Di tengah penetrasi teknologi yang kian masif, Kiai Said menegaskan bahwa dunia pesantren dilarang sekadar pasif menjadi penonton.

Institusi ini harus aktif mencetak generasi kompeten di bidang sains dan teknologi yang tetap memegang teguh identitas keulamaan.

"Kiai dan pesantren harus siap berubah supaya bisa melahirkan tokoh-tokoh hebat di bidang sains dan teknologi yang juga seorang ulama seperti di era keemasan Islam," jelasnya.

Para pengasuh juga diingatkan agar tidak mendidik santri dengan pola pikir fatalistik yang keliru menafsirkan ajaran tasawuf.

Pesantren justru memikul tanggung jawab besar untuk menyuntikkan optimisme, gairah kemajuan, serta mentalitas juara kepada anak didik.

"Jangan mengajarkan sedikit asal berkah, tapi ajarkan banyak dan berkah.

Jangan mengajarkan kalah di dunia dan menang di akhirat, tapi ajarkan menang di dunia dan menang akhirat," tegasnya disambut antusias peserta.

Pada kesempatan yang sama, KH Imam Jazuli menggarisbawahi bahwa pergeseran zaman merupakan sunatullah yang mutlak terjadi.

Kegagalan dalam mengantisipasi dinamika global ini akan membawa risiko kemunduran bagi individu maupun organisasi.

>>> Alwi Farhan Juarai Australia Open 2026, Bukti Regenerasi PBSI Berjalan Optimal

"Perubahan adalah peristiwa yang mabni atau tidak bisa dihindari. Perubahan tidak bisa membikin manusia atau lembaga mati.

Kematian akan dialami oleh manusia dan lembaga yang gagal merespons perubahan dengan tepat," kata Kiai Imam.

Penulis buku Terobosan Pesantren Memimpin Perubahan (2024) itu menyatakan bahwa keberhasilan pembaruan ini bertumpu pada nyali para pemimpin dalam mengambil kebijakan makro.

Oleh sebab itu, agenda lokakarya ini sengaja menyasar para pengasuh yang memegang kendali penuh di lembaga masing-masing.

"Karena itu, workshop ini hanya mengundang para pengasuh yang memiliki power untuk memutuskan perubahan," ujarnya.