Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia di Cirebon, Jawa Barat.

Acara yang digagas oleh Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, Kiai Imam Jazuli, ini bertujuan memperkuat kesiapan pesantren dalam menghadapi era disrupsi.

>>> Anthony Gordon Ungkap Kebahagiaan Bergabung dengan Barcelona

Gus Yahya, sapaan akrabnya, menyampaikan apresiasi tersebut saat membuka acara Angkatan ke-3 di Cirebon pada Sabtu (6/6/2026).

Kegiatan ini dihadiri sekitar 150 pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Pesantren Harus Responsif terhadap Perubahan Zaman

Dalam sambutannya, Gus Yahya menegaskan bahwa pesantren harus mampu merespons perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai pusat pembinaan spiritual dan penjaga umat.

Ia juga mengingatkan pentingnya nilai-nilai yang diwariskan oleh para ulama terdahulu.

"Di tengah perubahan saat ini, para kiai harus tetap menghidupkan quwwah ruhaniyah atau kekuatan spiritual pesantren sebagai pilar untuk melahirkan kader-kader yang menjadi kekuatan peradaban," ujar Gus Yahya.

Inisiator kegiatan, Kiai Imam Jazuli, menjelaskan bahwa workshop tersebut lahir dari kegelisahan terhadap perubahan besar di berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan.

Ia mencontohkan institusi besar yang tumbang akibat gagal beradaptasi, sementara yang adaptif justru berkembang pesat.

"Workshop ini hadir untuk berbagi strategi bagaimana merespons perubahan secara tepat dan proaktif," kata Kiai Imam Jazuli.

Menurutnya, minat masyarakat terhadap pesantren sebenarnya tidak menurun, melainkan terjadi pergeseran preferensi.

Masyarakat kini lebih memilih model pesantren yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman.

"Terjadi migrasi dari pesantren model lama ke pesantren model baru. Terbukti banyak pesantren yang usianya belum 10 tahun tetapi jumlah santrinya meledak.