Hal ini merujuk pada keyakinan Jawa mengenai pergantian hari baru.

Tujuan utama dari tradisi ini adalah memohon keselamatan dan menjaga kelestarian budaya lokal. Merujuk Ensiklopedia Kebudayaan Wonosobo (2020), warga umumnya berkumpul untuk melakukan tirakatan dan doa bersama.

Kegiatan tersebut biasanya dilengkapi dengan ubarampe atau perlengkapan ritual. Beberapa di antaranya meliputi tumpeng, ingkung, bunga, jajanan pasar, hingga bubur tanpa rasa.

Alasan Pemilik Weton Tulang Wangi Diminta Tetap di Rumah

Malam satu Suro diyakini sebagai momen sakral ketika batas antara dunia nyata dan dunia gaib menjadi sangat tipis.

Pertemuan energi dari malam satu Suro dan weton tulang wangi dipercaya meningkatkan risiko gangguan makhluk halus.

Budayawan Jawa, Om Hao melalui kanal YouTube Kisah Tanah Jawa menjelaskan bahwa momen ini sebenarnya merupakan waktu untuk evaluasi dan penyucian diri.

Manusia diharapkan lebih mawas diri dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.

Masyarakat Jawa kuno memilih membatasi aktivitas di luar rumah demi berfokus pada tirakat dan perenungan, bukan karena rasa takut.

Pola perilaku inilah yang kemudian berkembang menjadi mitos larangan keluar rumah bagi pemilik weton tulang wangi.

>>> IHSG Melonjak 5,03 Persen ke Level 6.309, Saham BUMN Jadi Motor Penggerak

Pemilik weton tulang wangi disebut harus mengurung diri saat malam satu Suro karena aura spiritual mereka memikat makhluk halus.