Penyesuaian harga BBM non-subsidi jenis Pertamax terus menuai sorotan.

Nilai pasar bahan bakar RON 92 tersebut ditaksir telah melonjak jauh di atas harga jual yang berlaku saat ini.

>>> HUNDRED Hoo Haa Cup 2026 di ICE BSD Diikuti 3.000 Peserta

Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Minyak Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, mengungkapkan bahwa fluktuasi harga minyak mentah dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah memengaruhi perhitungan harga keekonomian Pertamax.

"Dengan asumsi harga minyak rata-rata US$ 100 per barel, rendemen 0,6, kurs Rp 17.800 per dolar AS, diperoleh angka keekonomian Rp 18.700.

Ditambah biaya distribusi Rp 500 per liter, total harga keekonomian Pertamax adalah Rp 19.200," ujar Hadi.

Saat ini harga Pertamax telah dinaikkan dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Namun, posisi tersebut masih di bawah nilai wajar pasar.

Konsekuensi dari selisih harga yang lebar ini memicu beban finansial yang harus ditanggung Pertamina dan kas negara. "Pertamina masih menanggung Rp 2.950 per liter.

>>> Banjir dan Longsor di Sumatra Ancam Kepunahan Orangutan Tapanuli

Butuh cash flow dan berat jika harus terus menalangi tanpa arahan jelas apakah bisa direimburse ke pemerintah," ungkap Hadi.

Hadi mendorong pemerintah mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi beban finansial yang membengkak. Ia menyarankan percepatan konversi BBM ke gas dan listrik sebagai solusi jangka panjang.

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyebut bahwa harga jual BBM RON 92 di negara tetangga mencapai Rp 20.000-Rp 21.000 per liter.

"Kenaikan yang dilakukan sekarang masih jauh di bawah harga keekonomian.

>>> Lestarikan Budaya, Ini 30 Ucapan Tahun Baru Islam Bahasa Jawa Krama

Ini adalah jalan tengah terbaik agar ketersediaan energi jangka panjang terjaga dan daya beli masyarakat tidak terganggu," tuturnya.