Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan tajam pengiriman mobil BYD dari pabrik ke diler (wholesales) pada Mei 2026.

Angka distribusi merek asal China itu merosot menjadi 895 unit, dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 4.625 unit.

>>> Samsat DKI Jakarta Hadir di PRJ 2026, Layani Pajak dan Pemutihan

Capaian tersebut menjadi yang terendah bagi BYD sejak memasuki pasar domestik tahun lalu. Akibatnya, BYD keluar dari sepuluh besar merek mobil terlaris di Indonesia.

Transisi Produksi Jadi Penyebab

Manajemen PT BYD Motor Indonesia menyatakan penurunan bukan karena melemahnya minat konsumen, melainkan akibat peralihan basis produksi.

“Itu adalah dampak dari transisi production source kita. Sebelumnya kita masih berbasis impor,” kata Luther di Jakarta, Jumat (12/6/2026).

BYD sedang mengubah skema kendaraan dari impor utuh (CBU) menjadi produksi lokal dengan metode completely knocked down (CKD).

“Kita membenahi sistem supply dengan transisi dari barang CBU ke produksi lokal.

>>> Toyota Rebut Juara Balap Ketahanan Le Mans 24 Jam 2026

Sehingga ada sedikit shock di sisi angka, tapi itu akan normal kembali di bulan ini,” ujar Luther.

Hampir seluruh lini produk BYD terkena dampak.

Model Sealion menjadi yang paling laris pada Mei 2026 dengan 258 unit, disusul M6 sebanyak 197 unit, dan Atto 3 sebanyak 174 unit.

Varian lain mencatat angka lebih rendah: E6 129 unit, Dolphin 101 unit, Atto 1 26 unit, dan Seal hanya 10 unit.

Rendahnya distribusi Atto 1 yang baru diluncurkan menarik perhatian. Manajemen kembali menegaskan fluktuasi ini murni akibat peralihan manufaktur.

>>> Bovensiepen 05 GT: Tampil Kalem, Tenaga 790 hp Siap Mengguncang

“Ya memang itu dampak dari transisi itu. Mungkin itu bisa dibaca kenapa bisa ada shock pengurangan yang cukup signifikan tersebut,” katanya.