Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan kebangkitan signifikan setelah sempat terpuruk hingga level Rp 4.000-an.

Pada sesi I perdagangan Senin (15/6/2026) sekitar pukul 10.02 WIB, saham emiten perbankan besar ini melonjak 5,49 persen ke posisi Rp 6.250.

>>> Masjidil Haram Siapkan Penggantian Kiswah Ka'bah Jelang 1 Muharram 1448 H

Aktivitas perdagangan mencatat sebanyak 134,9 juta saham BBCA telah ditransaksikan dengan frekuensi 27.854 kali.

Nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp 836 miliar, serta mencatatkan net buy sebesar Rp 126,4 miliar berdasarkan data aplikasi Stockbit Sekuritas.

Pergerakan positif ini membuat saham BBCA konsisten berada di zona hijau sejak 9 Juni 2026.

Catatan ini membalikkan tren negatif yang terjadi pada periode 3 hingga 8 Juni saat saham tersebut mengalami pelemahan.

Jika dihitung dari posisi penutupan pada 8 Juni, saham BBCA telah mengalami penguatan sekitar 28 persen hingga mencapai level Rp 6.250 pada intraday.

Penguatan ini berjalan beriringan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga melompat 3,7 persen ke sekitar pukul 10.06 WIB.

Faktor Pendorong Kenaikan

Faktor penguat internal emiten didorong oleh kelanjutan program pembelian kembali (buyback) saham BBCA.

Aksi korporasi tersebut telah mengantongi persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan tahun buku 2025 yang digelar pada 12 Maret 2026.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menjelaskan bahwa langkah ini merupakan kelanjutan dari program buyback yang sebelumnya telah berjalan pada April lalu.

Kebijakan ini diambil sebagai bentuk kepercayaan manajemen terhadap kondisi pasar modal di Indonesia.

"Pelaksanaan buyback saham BBCA merupakan sinyal optimisme kami di pasar modal Indonesia.