Perayaan Idulfitri di Indonesia tidak selalu berakhir pada hari pertama Syawal. Masyarakat di Pulau Jawa dan sejumlah daerah lain melanjutkan suasana kemenangan dengan tradisi Lebaran Ketupat.

Momen ini menjadi kelanjutan silaturahmi sekaligus penutup rangkaian ibadah sunah di bulan Syawal. Tradisi ini erat kaitannya dengan anjuran puasa sunah enam hari setelah Idulfitri.

>>> Le Comptoir Quarter Buka Restoran Prancis Kasual di Plaza Indonesia

Berdasarkan informasi dari Kemenag, Lebaran Ketupat dirayakan sekitar satu pekan pasca-Idulfitri, tepatnya pada 8 Syawal dalam kalender Hijriah.

Masyarakat merayakannya dengan makan bersama hidangan ketupat setelah menyelesaikan puasa sunah.

Makna Filosofis Ketupat

Ketupat bukan sekadar makanan khas saat perayaan, melainkan memiliki arti filosofis yang mendalam. Anyaman janur pada ketupat melambangkan kesalahan manusia yang saling berkaitan satu sama lain.

Bentuk segi empat pada hidangan ini mencerminkan kesempurnaan serta kebersihan hati setelah melewati bulan suci.

Sementara itu, isi beras putih di dalamnya menjadi simbol kesucian manusia setelah saling memaafkan.

Rangkaian Tradisi Lebaran Ketupat

Perayaan ini berlangsung kental di daerah Jawa, Madura, hingga beberapa wilayah Indonesia lainnya. Terdapat sejumlah kegiatan utama yang biasa dilakukan oleh masyarakat setempat.

Masyarakat memasak ketupat lengkap dengan lauk pendamping seperti opor ayam, sambal goreng, dan sayur santan. Hidangan gurih ini kemudian disajikan untuk menjamu keluarga serta tamu yang datang berkunjung.

Suasana hangat Idulfitri kembali tercipta karena warga kembali membuka pintu rumah mereka untuk menerima tamu.

Tradisi ini memperkuat hubungan sosial yang mungkin belum sempat terjalin pada hari pertama Lebaran.

>>> Bank Jatim Bagikan Dividen Rp850 Miliar, Yield Capai 9,4%

Beberapa daerah melangsungkan kegiatan keagamaan seperti doa bersama, pengajian, hingga membagikan sedekah makanan. Makanan tersebut dibagikan secara sukarela kepada tetangga dan masyarakat di sekitar tempat tinggal.