Prinsip literasi keuangan yang diajarkan Robert Kiyosaki dalam buku Rich Dad Poor Dad menyoroti perbedaan mendasar antara pembangun kekayaan abadi dan mereka yang berjuang secara finansial.

Perbedaan tersebut terletak pada pola pikir, kebiasaan, dan pendidikan keuangan dalam memandang uang, waktu, risiko, serta peluang.

>>> Rupiah Diprediksi Fluktuatif Sepekan ke Depan, Berpotensi Melemah

Sepuluh Kebiasaan yang Membedakan

Kelompok kaya memandang uang sebagai alat strategis untuk melipatgandakan kekayaan dengan membeli aset produktif, mendanai bisnis, dan memutar kembali keuntungan.

Sebaliknya, kelompok berpenghasilan rendah cenderung melihat uang sebagai alat pemuas kebutuhan atau keinginan sesaat.

Peningkatan pendapatan bagi kelompok ini sering kali memicu kenaikan gaya hidup konsumtif daripada dialokasikan untuk investasi jangka panjang.

Diversifikasi menjadi kunci bagi individu yang sukses secara finansial dengan membangun banyak saluran pendapatan melalui bisnis, properti, dividen, hingga royalti.

Langkah diversifikasi ini berfungsi sebagai pelindung ketika terjadi kemerosotan ekonomi atau kehilangan pekerjaan.

Sementara itu, masyarakat berpenghasilan rendah biasanya hanya bertumpu pada satu gaji, sehingga arus kas langsung terhenti saat sumber upah tersebut hilang.

Kiyosaki menegaskan bahwa aset berfungsi memasukkan uang ke dalam saku, sedangkan kewajiban justru menguras uang dari saku.

Kelompok kaya aktif mengumpulkan aset seperti properti sewaan atau saham, sedangkan kelompok berpenghasilan rendah sering salah mengira kewajiban sebagai investasi.

Contoh kesalahan tersebut adalah menganggap kendaraan pribadi atau rumah tinggal sebagai aset, padahal pembelian itu terus menguras dana melalui pajak dan biaya perawatan.

Pendidikan finansial bagi kelompok kaya merupakan proses seumur hidup yang tidak berhenti setelah mendapatkan ijazah formal.

Mereka konsisten memperdalam ilmu investasi, manajemen bisnis, tren pasar, serta mencari bimbingan dari mentor.