Namun, laba bersih perbankan juga tertekan margin akibat kenaikan suku bunga. Andrey berpendapat efek buyback dan dividen bersifat jangka pendek hingga menengah.

“Untuk tren kenaikan berkelanjutan, pasar membutuhkan perbaikan sentimen makro, stabilisasi rupiah, dan kembalinya arus dana asing,” ujar Andrey.

Founder Republik Investor Hendra Wardana menambahkan aliran dana asing sangat krusial karena perbankan menjadi tujuan utama investor luar negeri.

Saat ini investor asing masih selektif, terlihat dari net sell di mayoritas saham bank papan atas.

Hendra memproyeksikan peluang kenaikan lanjutan terbuka jika pasar global kondusif, rupiah stabil, dan tidak ada pelemahan ekonomi domestik.

Sektor perbankan bisa menjadi motor pemulihan IHSG di semester II 2026 jika asing konsisten net buy.

Namun, ia mengingatkan risiko perlambatan kredit dan potensi kenaikan NPL. Tekanan daya beli masyarakat juga masih menjadi tantangan.

“Kenaikan saham bank dalam jangka pendek kemungkinan masih selektif dan belum merata,” kata Hendra.

Hendra merekomendasikan trading buy untuk BBCA dengan target Rp 6.425 dan BBNI target Rp 3.890.

>>> FIFA Tetap Bayar Penuh Gaji Wasit Somalia yang Dideportasi AS

Sementara Andrey memilih BMRI dan BBRI sebagai saham pilihan karena valuasi menarik, likuiditas tinggi, dan potensi pemulihan kuat.