Sementara resistance kedua berada di US$ 4.571 per ons troi yang dapat membawa harga emas batangan mencapai sekitar Rp 2.880.000 per gram.

>>> Sukor Sekuritas Jamin Penuh Saham IPO Niramas Utama, Target Dana Rp392 Miliar

Faktor Fundamental yang Dicermati

Dari sisi fundamental, perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah dan keputusan kebijakan moneter dari bank sentral utama dunia menjadi dua faktor utama yang dicermati pelaku pasar pada pekan depan.

Perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan, khususnya terkait harapan tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz.

"Indikasi perdamaian ini membuat harga minyak mentah berpotensi turun," kata Ibrahim.

Meski demikian, pasar dinilai masih menunggu realisasi dari kesepakatan tersebut mengingat risiko konflik di kawasan Timur Tengah masih tetap membayangi.

Perhatian investor juga tertuju pada agenda pertemuan sejumlah bank sentral besar dunia pada pekan depan, mulai dari Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), Bank of England (BoE), hingga Bank of Japan (BoJ).

The Fed berpeluang mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan mendatang.

Namun, arah kebijakan moneter selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan pergerakan harga energi global.

Lonjakan harga minyak sebelumnya sempat meningkatkan tekanan inflasi global.

Namun apabila harga minyak kembali melemah seiring meredanya tensi geopolitik, ruang bagi bank-bank sentral untuk kembali melonggarkan kebijakan moneternya akan semakin terbuka.

Dalam kondisi tersebut, emas dinilai tetap memiliki prospek menarik sebagai aset lindung nilai atau safe haven bagi investor.

>>> New York Knicks Juara NBA Pertama Kali Sejak 1973 Usai Tekuk San Antonio Spurs

"Apabila Selat Hormuz kembali dibuka dan tekanan geopolitik mereda, itu bisa menjadi momentum bagi harga emas dunia maupun emas batangan untuk kembali menguat," ujar Ibrahim.