Dr. Andik Wijaya, seorang dokter berusia 60 tahun, mendeteksi risiko tinggi serangan jantung dan stroke melalui pemeriksaan kalsium koroner pada April 2024.

Hasil skrining tersebut mengubah pandangannya terhadap kesehatan pribadi secara drastis. Ia sempat merasa sangat percaya diri dengan kondisi tubuhnya yang tanpa keluhan.

>>> Panasonic Gobel Tahan Kenaikan Harga Produk Elektronik Rumah Tangga

Pemeriksaan awal yang diikuti Andik merupakan tes skor kalsium arteri koroner untuk melihat timbunan kalsium pada pembuluh darah.

Di luar dugaan, skor yang didapatkan mencapai angka 431, indikator klinis kerentanan tinggi terhadap gangguan kardiovaskular akut.

Andik menyadari bahwa dalam dunia medis, pasien dengan skor setinggi itu lazimnya dirujuk untuk menjalani prosedur kateterisasi guna memeriksa tingkat penyumbatan pembuluh darah.

Jika ditemukan penyumbatan signifikan, tindakan intervensi berupa pemasangan ring jantung umumnya direkomendasikan.

Ketidaksadaran akan risiko ini dipicu oleh kadar LDL atau kolesterol jahat Andik yang biasanya hanya berkisar antara 100 hingga 120 mg/dL, angka yang dinilai tidak terlalu ekstrem.

Namun, faktor genetika diposisikan sebagai variabel pendukung karena ia memiliki riwayat keluarga dengan kasus kematian akibat stroke dan intervensi ring jantung.

Pasca-skrining, Andik segera mendalami literatur ilmiah mengenai penyakit jantung koroner serta mengimplementasikan modifikasi gaya hidup.

>>> UIN Malang Buka Pendaftaran Jalur Mandiri S1 2026/2027, Ada Tiga Skema

Langkah nyata yang diambil meliputi pengaturan kembali pola makan sehari-hari serta peningkatan intensitas aktivitas fisik demi memitigasi risiko perkembangan penyakit.

"Saya pikir kesehatan saya bakal baik-baik saja karena saya cukup menjaga kesehatan," kata Andik saat diwawancarai Kompas. com, Jumat (12/6/2026).

Pernyataan tersebut mencerminkan keyakinan awalnya yang luruh seketika demi melihat data rekam medis objektif dari hasil laboratorium.

"Dan ternyata saya yang semula sangat percaya diri, ternyata hasilnya sangat buruk," ujar Andik.

Evaluasi medis yang awalnya hanya dilakukan secara kasual ini kini dipandang Andik sebagai titik balik krusial bagi kelangsungan hidupnya.

"Makanya tadi saya katakan waktu mau screening calcium score, saya percaya diri sekali bahwa saya tidak akan ada masalah yang serius," ujarnya.

Melalui pengalaman personal ini, Andik kini gencar mendorong masyarakat luas agar bersedia menempuh deteksi dini tanpa perlu menunggu manifestasi gejala klinis.

>>> Kemnaker Buka Pendaftaran Pemagangan Jepang dan Pelatihan Kaigo

"Saya sangat kaget mengingat saya pikir selama ini saya cukup menjaga kesehatan," kata Andik.