Pemerintah Iran membantah klaim Pakistan bahwa nota kesepahaman damai dengan Amerika Serikat akan ditandatangani dalam 24 jam ke depan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan peluang kesepakatan masih terbuka dalam beberapa hari mendatang.

>>> Presiden FIFA Gianni Infantino Tuai Kecaman Politisi Italia

"Kami harus menunggu dan melihat tanggal pasti penandatanganan nota kesepahaman tersebut, meskipun tidak akan dilakukan besok," ujar Baghaei.

Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut kedua pihak telah menyepakati kerangka dasar dan siap melakukan penandatanganan elektronik pada Minggu.

Konflik bersenjata antara Iran dan AS dimulai pada 28 Februari 2026 setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran.

Pertempuran yang meluas ke Timur Tengah itu telah menewaskan ribuan orang di Iran dan Lebanon, serta mengganggu pasar energi global akibat blokade di Selat Hormuz.

Isi Rancangan Kesepakatan

Rancangan nota kesepahaman mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian blokade laut oleh militer AS.

>>> PT Bukit Asam Tbk Bagikan Dividen Tunai Rp1,31 Triliun

Sebagai imbalan, Amerika Serikat akan mencairkan miliaran dolar aset Iran dan melonggarkan sanksi ekspor minyak.

Teheran juga diwajibkan membuka akses pelayaran dan melanjutkan perundingan program nuklir dalam periode 60 hari.

Namun, masalah pengayaan uranium masih menjadi titik perbedaan utama. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menolak permintaan pemusnahan total fasilitas nuklir.

Iran hanya bersedia mempertahankan uranium yang telah diperkaya dalam bentuk yang sudah diencerkan.

>>> Danantara Pangkas Jumlah BUMN dari 1.000 Jadi 200 untuk Efisiensi

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tidak akan terikat dalam kesepakatan damai tersebut dan tetap mempertahankan kebebasan militer.