Arus ekspor besi dan baja Indonesia sejauh ini didominasi ke China, ASEAN, dan beberapa negara Eropa.

Namun, IISIA memandang peluang memperluas penetrasi pasar masih terbuka lebar di kawasan berkembang.

Harry Warganegara menyebut Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin berpotensi menjadi destinasi ekspor baru.

Hal ini didorong oleh melonjaknya kebutuhan pembangunan infrastruktur dan laju industrialisasi di wilayah tersebut.

Di sisi lain, daya saing produk baja Indonesia di kancah global akan ditentukan oleh regulasi hijau.

Industri dituntut mampu memenuhi standar keberlanjutan dan ambang batas jejak karbon yang diterapkan negara tujuan.

>>> Review Gerakan Berburu Takjil Tanpa Sampah Plastik di Bulan Ramadan

"Pasar ekspor ke depan juga akan semakin ditentukan oleh kemampuan industri memenuhi standar keberlanjutan dan jejak karbon yang dipersyaratkan negara tujuan," kata Harry Warganegara.