Produk baja bernilai tambah seperti baja lapis dan turunannya berpotensi besar menjadi penggerak utama dalam mendongkrak ekspor manufaktur Indonesia.

Langkah ini sejalan dengan target pemerintah yang ingin mengerek porsi ekspor hingga mencapai 30% dari total penjualan sektor manufaktur.

>>> Ana/Trias Melaju ke Semifinal Australian Open 2026

Saat ini, struktur pengiriman besi dan baja nasional masih didominasi produk dalam kelompok HS 72, terutama ferroalloy seperti ferronikel dari hilirisasi nikel domestik.

Selain ferronikel, beberapa produk baja lain seperti crude steel, hot rolled coil (HRC), cold rolled coil (CRC), plate, dan wire rod juga telah diekspor.

Prospek Baja Bernilai Tambah

Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara menilai prospek terbesar ke depan terletak pada pengembangan varian baja bernilai tambah.

Varian ini dianggap memiliki daya saing yang jauh lebih kuat di pasar internasional.

"Ekspor produk bernilai tambah seperti baja lapis dan produk hilir lainnya berpotensi untuk terus ditingkatkan," ujar Harry Warganegara.

Upaya peningkatan ini berjalan beriringan dengan penguatan rantai industri baja dari hulu ke hilir.

Penguatan tersebut diharapkan membuat kontribusi sektor baja terhadap kinerja ekspor nasional semakin signifikan.

Sektor industri baja nasional masih memiliki ruang kapasitas produksi yang mumpuni untuk mendukung ekspansi ekspor.

>>> Oracle Peringatkan Celah Keamanan PeopleSoft Akibat Peretasan Shiny Hunters

Optimalisasi fasilitas produksi yang belum beroperasi penuh dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan volume pengiriman dan memperbaiki utilisasi industri.

"Dari sisi industri baja, kapasitas produksi nasional masih memiliki ruang untuk mendukung peningkatan ekspor, khususnya melalui optimalisasi utilisasi fasilitas produksi yang sudah ada," tutur Harry Warganegara.