Setelah menyelesaikan studi, bagaimana semestinya penerima beasiswa berkontribusi bagi Indonesia? Pertanyaan ini kerap muncul, terutama terkait beasiswa seperti LPDP yang memberikan kesempatan belajar di luar negeri.

Banyak yang memandang beasiswa bukan sekadar kesempatan belajar, melainkan amanah untuk memberi kembali kepada masyarakat. Namun, bentuk kontribusi bisa beragam sesuai bidang keahlian masing-masing.

>>> Gangguan Massal Facebook dan Messenger Global, Pengguna Keluar Otomatis

Seorang pengajar bahasa Inggris yang pernah memperoleh beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat memilih langsung kembali ke Indonesia setelah studinya selesai.

Ia kemudian mengajar di beberapa lembaga pendidikan dan kampus.

Ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama di Amerika ia terapkan dalam proses pembelajaran, baik melalui metode pengajaran maupun materi ajar.

Misalnya, dalam mata kuliah Cross Cultural Understanding, ia mendorong mahasiswa turun langsung ke lapangan dan membuat video tentang kekhasan budaya lokal.

Mahasiswa terlihat antusias dan belajar lebih dalam mengenai budaya Aceh. Dalam mata kuliah Grammar and Communication, ia memberikan tugas menulis jurnal berbahasa Inggris setiap minggu.

Ia menghabiskan puluhan jam untuk membaca dan memberikan umpan balik.

Di akhir semester, ia mengajak mahasiswa berdiskusi di warung kopi selama lebih dari empat jam, membimbing mereka merefleksikan kesalahan dan pembelajaran.

Hasilnya, mahasiswa memahami grammar secara praktis dan reflektif, bukan sekadar menghafal teori. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kontribusi bisa dilakukan melalui pengajaran yang inovatif.

Kontribusi Tidak Harus Sama

Bentuk kontribusi tidak harus selalu sama.

Pengajar yang sama juga pernah memperoleh beasiswa dari universitas di Taiwan yang tidak mewajibkan penerima untuk kembali ke Indonesia.

Meski demikian, ia memilih pulang ke kampung halaman dan kembali mengajar di perguruan tinggi.