Apakah bertambahnya usia selalu berarti semakin banyak yang kita miliki? Atau justru tiba saatnya kita belajar memilih, menyimpan yang paling bermakna, dan dengan tenang melepaskan yang lain?

Perjalanan merampingkan hidup ini bermula dari kebiasaan berbenah di akhir tahun lalu. Saat itu, fokusnya sederhana: melepas berbagai beban yang terasa menumpuk di rumah.

>>> Kemensos Percepat Penyaluran BPNT Tahap Dua 2026 ke Seluruh Wilayah

Namun kali ini tantangannya terasa jauh lebih personal. Harus berhadapan dengan benda-benda yang tidak sekadar barang, melainkan ada jejak emosi yang melekat di dalamnya.

Yang paling kuat tentu saja kebaya dan kain batik milik almarhumah Ibu. Salah satu yang paling disukai adalah kebaya berwarna magenta.

Jari sempat tertahan di antara jalinan sulur brokat berwarna merah muda tua yang masih tampak tegas, meski seratnya mulai menua.

Kebaya itu sudah belasan tahun terlipat di sudut lemari, membawa aroma kamper yang bercampur dengan kenangan berbagai hajatan keluarga di masa lalu.

Berdiri di depan lemari yang terasa sesak, tiba-tiba memahami sesuatu yang selama ini dihindari: menyimpan kebaya dan kain-kain itu tidak akan membuat Ibu kembali.

Ia hanya memenuhi ruang yang sebenarnya bisa memberi hidup sedikit kelonggaran.

Di titik itu disadari bahwa merampingkan hidup menjelang usia enam puluh bukan sekadar urusan membuang barang.

Ia lebih menyerupai sebuah seni memilah—mana cinta yang perlu terus disimpan dalam hati, dan mana benda yang cukup tinggal sebagai kenangan.

Seni Menjadi Kurator Kehidupan

Puluhan tahun hidup cenderung bergerak dalam satu arah: menumpuk dan menambah.

Perabot terus berdatangan, mulai dari kursi kayu yang awalnya dibeli demi estetika, hingga sepasang barbel yang kini lebih banyak beristirahat di bawah tempat tidur, berdebu bersama niat olahraga yang sering tertunda.