Tanpa sadar kita seperti sedang membangun museum pribadi, bukan sekadar rumah tinggal. Seolah-olah semakin banyak barang berarti hidup semakin lengkap.

Namun memasuki fase jenampu, ada suara kecil yang semakin sering terdengar: cukup. Minimalisme yang kini banyak dibicarakan bukan berarti hidup asketik yang serba kosong.

Ia lebih merupakan perubahan peran dari seorang kolektor menjadi seorang kurator.

Seorang kolektor cenderung menyimpan semuanya, sedangkan seorang kurator memilih dengan hati-hati apa yang benar-benar layak untuk tetap tinggal.

Perbedaan itu benar-benar dipahami ketika berdiri di depan kebaya Ibu. Menyimpan kebaya itu apa adanya mungkin adalah sikap seorang kolektor.

Tetapi memotretnya sebagai kenangan lalu mendonasikannya agar tetap hidup bagi orang lain—itulah tindakan seorang kurator.

Perlahan disadari bahwa beban fisik barang-barang di rumah sering kali berjalan seiring dengan beban di pikiran.

Filosofi merampingkan hidup ternyata juga bentuk kasih sayang kepada diri sendiri: memberi ruang bagi tubuh untuk bergerak lebih bebas dan bagi jiwa untuk bernapas tanpa terhimpit tumpukan masa lalu.

Melepaskan Tanpa Mengkhianati Kenangan

Bagi seseorang yang telah memasuki usia jenampu, membuang barang tidak pernah menjadi hal yang sederhana. Setiap benda sering kali menjadi jangkar bagi sebuah peristiwa.

Kebaya Ibu, misalnya, bukan sekadar kain.

Ia membawa ingatan tentang tawa di pelaminan kerabat, tangan yang merapikan sanggul di depan cermin, dan aroma bedak yang dulu bisa dikenali bahkan sebelum melihat wajahnya.

Lalu muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab: bagaimana melepaskan benda-benda itu tanpa merasa seolah mengkhianati kenangan?

Dicoba memisahkan esensi dari materinya. Kebaya itu dibentangkan di dekat jendela.

Cahaya pagi jatuh lembut di atas brokatnya.