Rupiah Menguat 0,84% dalam Sepekan, BI Beberkan Penyebabnya
Nilai tukar rupiah mencatat penguatan sebesar 0,84 persen terhadap dolar Amerika Serikat dalam sepekan terakhir.
Pergerakan positif ini dipicu respons pasar terhadap bauran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan derasnya aliran modal asing ke instrumen keuangan domestik.
>>> KPK Jadwalkan Pemeriksaan Fuad Hasan Masyhur Pekan Depan
Berdasarkan data penutupan pasar pada Jumat (12/6/2026), rupiah bertengger di level Rp17.865,75 per dolar AS.
Angka ini membaik dibandingkan posisi penutupan sepekan sebelumnya yang mencapai Rp18.010,20 per dolar AS.
Langkah Strategis BI
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa penguatan rupiah didorong sejumlah langkah strategis bank sentral.
Langkah tersebut meliputi kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan pemberian insentif hedging swap bagi investor global.
Selain itu, BI juga membuka akses repo untuk likuiditas perbankan serta mengintensifkan operasi moneter. "Perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia," ujar Destry Damayanti.
Sinergi kebijakan antara bank sentral dan pemerintah pascakenaikan BI-Rate turut mendorong pertumbuhan arus modal asing. Investor internasional mulai melirik instrumen keuangan dalam negeri.
Data aliran dana menunjukkan bahwa instrumen SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN) mencatat masuknya dana investor nonresiden senilai Rp15,11 triliun pada 10 Juni 2026.
>>> Dunia Usaha Minta Keseimbangan Program Prioritas dan Keberlanjutan Fiskal
Angka tersebut berlanjut sebesar Rp3,91 triliun pada 11 Juni 2026.
Selain itu, obligasi internasional Danantara Indonesia juga menyumbang modal asing melalui penjualan perdana yang menembus Rp26,9 triliun.
"Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," kata Destry.
Ketahanan eksternal ekonomi nasional semakin kokoh setelah tercapainya kesepakatan kerja sama keuangan antara BI, People's Bank of China, dan Hong Kong Monetary Authority.
Kerja sama ini bertujuan untuk stabilitas regional, penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), dan perluasan skema Local Currency Transaction (LCT) guna mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Ke depan, BI menyatakan akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter secara konsisten dan terukur di pasar.
>>> Zaki Ubaidillah Tembus Semifinal Australian Open 2026 Usai Tekuk Justin Hoh
Bank sentral juga akan memperkuat koordinasi lintas instansi demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Update Terbaru
Daftar Pemain Drama Korea Teach You a Lesson, dari Kim Mu-yeol hingga Lee Sung-min
Jumat / 12-06-2026, 18:52 WIB
TVRI Siarkan Gratis Piala Dunia 2026 Lewat Jaringan Digital
Jumat / 12-06-2026, 18:52 WIB
Polisi Tangkap Dua Penyusup Bawa Molotov di Demo BEM UI
Jumat / 12-06-2026, 18:51 WIB
5 Biodata Member Migak Boys Lengkap dengan Instagram, Boy Group Fiktif The Legend of Kitchen Soldier
Jumat / 12-06-2026, 18:50 WIB
Kondisi Geografis Indonesia Menuntut Pendekatan Adaptif dalam Memilih Atap Rumah
Jumat / 12-06-2026, 18:49 WIB
Kawasaki Resmi Pasarkan Modenas Brusky 125 di Jakarta Fair 2026
Jumat / 12-06-2026, 18:49 WIB
Shakira Tampil di Piala Dunia 2026 Tanpa Bayaran, Ini Alasannya
Jumat / 12-06-2026, 18:49 WIB
Studi: Glucosamine Tingkatkan Risiko Demensia, Layar Bantu Pemulihan Gegar Otak Anak
Jumat / 12-06-2026, 18:48 WIB
Prospect Institute Dorong Ekosistem Keberlanjutan di Invirotech Expo 2026
Jumat / 12-06-2026, 18:48 WIB
Kembali ke Penilaian Lisan untuk Kejujuran dan Otentisitas Fondasi Belajar
Jumat / 12-06-2026, 18:48 WIB
PT Timah Tbk Alokasikan Laba Ditahan Rp658 Miliar untuk Pacu Produksi
Jumat / 12-06-2026, 18:48 WIB
Kawasaki Resmi Pasarkan Modenas Brusky 125 di PRJ 2026
Jumat / 12-06-2026, 18:47 WIB
Mengenal Ciri People Pleaser yang Sering Mengorbankan Diri Sendiri
Jumat / 12-06-2026, 18:46 WIB
DPR Desak Audit Total Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi
Jumat / 12-06-2026, 18:46 WIB






