Wilayah penghasil batu bara terbesar di China, Inner Mongolia, berencana membangun pusat konversi batu bara menjadi minyak, gas, dan bahan kimia terbesar di negara tersebut.

Langkah ini diambil untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap ketergantungan impor, terutama setelah dinamika konflik Iran yang kembali menyoroti pentingnya keamanan pasokan energi bagi China.

>>> Apple Rilis iOS 27 Beta Developer Usai WWDC 2026, Ini Cara Update dan Risikonya

Inner Mongolia juga dikenal sebagai salah satu wilayah dengan produksi energi terbarukan terbesar di China, menjadikannya gambaran kecil dari kompleksnya transisi energi negara tersebut.

Di satu sisi wilayah ini memiliki cadangan batu bara yang melimpah, namun di sisi lain masih sangat bergantung pada impor minyak dan gas dari luar negeri.

Proyek konversi batu bara menjadi produk minyak dan petrokimia ini sebenarnya bukan hal baru di China, namun skalanya terus diperbesar.

Pemerintah daerah menyebutkan bahwa mereka akan memperkuat kapasitas produksi dalam negeri untuk proyek coal-to-oil, coal-to-gas, dan coal-to-chemicals guna meningkatkan kemandirian energi.

Wakil pejabat utama wilayah tersebut, Huang Zhiqiang, menyampaikan dalam konferensi pers bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi memperkuat produksi energi domestik, meski ia tidak merinci detail tambahan.

Meski demikian, kontribusi industri ini terhadap kebutuhan energi nasional masih relatif kecil dibandingkan besarnya impor China.

Pada 2024, produksi gas, cairan, dan bahan kimia dari batu bara hanya mampu menggantikan sekitar 6% dari impor minyak mentah dan gas yang masuk ke China.

Namun, pertumbuhan sektor ini terus berlanjut.

Pada Mei lalu, Kementerian Lingkungan China menyetujui pembangunan proyek demonstrasi senilai sekitar 22,1 miliar yuan atau setara US$ 3,3 miliar di kota Ordos.