>>> Timnas Indonesia Naik ke Peringkat 118 FIFA Usai Kalahkan Oman dan Mozambik

Proyek tersebut ditargetkan mampu memproduksi 800.000 ton olefin per tahun, yakni bahan dasar penting untuk industri plastik dan kimia.

Seiring meningkatnya harga dan ketegangan geopolitik, keuntungan industri petrokimia berbasis batu bara juga dilaporkan melonjak.

Penggunaan batu bara domestik yang relatif lebih murah membuatnya lebih kompetitif dibandingkan produsen petrokimia lain yang bergantung pada minyak sebagai bahan baku.

Namun, ekspansi ini juga memunculkan kekhawatiran serius terkait emisi karbon.

Proses konversi batu bara menjadi bahan bakar cair dan kimia dikenal sebagai salah satu sumber emisi yang besar, sehingga berpotensi menambah tekanan terhadap target iklim China.

Pemerintah daerah menyebut mereka tetap berupaya menyeimbangkan pemanfaatan cadangan batu bara dengan pengembangan energi terbarukan yang kini telah mencapai sekitar 53% dari total kapasitas terpasang di wilayah tersebut.

Selain itu, dokumen pemerintah juga menunjukkan rencana penggunaan hidrogen hijau dalam proyek coal-to-chemicals sebagai upaya mengurangi dampak lingkungan.

Namun, sejumlah pemerhati energi bersih mengingatkan bahwa langkah tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk memperluas ketergantungan pada batu bara.

Saat ini, Inner Mongolia memproduksi sekitar 1,25 miliar hingga 1,28 miliar ton batu bara setiap tahun, atau lebih dari seperempat total produksi China.

>>> Gavi Tekel Keras Rodri di Latihan Timnas Spanyol, Pelatih Pasang Badan

Sekitar dua pertiganya berasal dari Ordos, yang juga menjadi lokasi utama pengembangan basis industri konversi batu bara ke petrokimia tersebut.