Fenomena ini mencerminkan permintaan kompensasi risiko yang lebih tinggi dari investor. Pelaku pasar meminta premi lebih besar untuk instrumen berdurasi panjang.

Sepanjang pekan ini, imbal hasil obligasi bergerak dalam rentang ketat 7,2-7,4 persen, meninggalkan zona 6 persen.

Selisih yield antara tenor 1 tahun dan 30 tahun hanya 0,17 persen.

Situasi ini tidak biasa karena pada kondisi normal, obligasi jangka panjang menawarkan kompensasi risiko lebih besar dengan margin minimal 100-300 bps.

Pola ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga acuan akan tetap tinggi dalam jangka panjang (higher for longer) demi stabilitas rupiah.

Kenaikan yield jangka panjang juga memberi sinyal tentang kepercayaan pasar.

Keyakinan investor terhadap stabilitas ekonomi jangka pendek belum sepenuhnya selaras dengan prospek fiskal dan ekonomi domestik jangka panjang.

>>> 4 Rekor Baru Tercipta di Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Investor dinilai percaya pada kapasitas Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, pasar masih antisipatif dan menunggu katalis positif lanjutan untuk memastikan keberlanjutan stabilitas.