Pasar obligasi dalam negeri kembali bergairah seiring penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Rupiah terapresiasi 0,46 persen ke level Rp17.910 per dolar AS pada perdagangan Jumat siang, 12 Juni 2026.

>>> Honda Racing Indonesia Andalkan Civic Type R Turbo di MFoS 2026

Berdasarkan data Bloomberg pukul 11:57 WIB, imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) turun di hampir seluruh tenor.

Penurunan yield ini mengindikasikan akumulasi aksi beli oleh pelaku pasar.

Mayoritas tenor obligasi pemerintah mencatatkan reli positif.

Yield tenor 5 tahun turun paling tajam, yakni 10,7 basis poin (bps) ke level 7,38 persen.

Yield tenor 11 tahun terkoreksi 12,3 bps menjadi 7,4 persen, tenor 8 tahun turun 8,8 bps ke 7,37 persen, dan tenor 7 tahun turun 8,4 bps ke 7,39 persen.

Pergerakan yield tenor pendek terbatas.

Yield tenor 1 tahun turun tipis 1,5 bps ke 7,24 persen, sedangkan tenor 2 tahun turun 3,5 bps ke 7,32 persen.

Berbeda dengan tenor lainnya, yield SUN tenor 3 tahun justru naik 0,4 bps ke 7,46 persen.

Secara historis, obligasi jangka pendek 1-3 tahun biasanya lebih volatil.

Pergerakan yield saat ini mengindikasikan intervensi Bank Indonesia untuk meredam lonjakan yield SUN.

>>> Kenaikan BI Rate ke 5,5% Diprediksi Tekan Sektor Properti Non-Subsidi

Langkah ini bertujuan mengendalikan biaya penerbitan surat utang negara dan menekan volatilitas cost of fund bagi obligasi korporasi.

Tekanan koreksi masih membayangi obligasi durasi panjang.

Yield tenor 12 tahun melonjak 12,5 bps, tenor 20 tahun naik 2,8 bps, dan tenor 30 tahun naik 1,5 bps.