"Sindikasi memungkinkan proyek-proyek besar tetap memperoleh pendanaan tanpa membebani neraca satu bank secara berlebihan.

Diversifikasi risiko menjadi satu alasan sindikasi tetap menjadi pilihan utama untuk pembiayaan proyek strategis," kata Yusuf saat dihubungi, Kamis (11/6/2026).

Mitigasi Risiko Proyek

Kendati menunjukkan kinerja positif, Yusuf mengingatkan bahwa instrumen pembiayaan kolektif ini tetap memiliki celah risiko.

Ancaman utama pada saat ini bersumber dari kondisi fundamental internal proyek yang sedang didanai.

Apabila kinerja operasional proyek tersebut terdampak langsung oleh tekanan ekonomi makro serta fluktuasi nilai tukar rupiah, setiap bank peserta sindikasi berpotensi ikut menanggung kerugian keuangan.

Oleh karena itu, perbankan diprediksi akan menerapkan prinsip kehati-hatian yang lebih ketat dalam menyaring proyek, dengan memprioritaskan sektor yang memiliki rekam jejak dan prospek cerah.

"Selama proyek memiliki prospek yang baik dan profil risiko yang terukur, skema sindikasi justru menjadi salah satu instrumen yang efektif untuk menjaga penyaluran kredit tetap berjalan di tengah ketidakpastian ekonomi," ucapnya.

Secara umum, pertumbuhan kredit sindikasi hingga akhir tahun 2026 diproyeksikan tetap berada di jalur positif.

>>> PT Pyridam Farma Tunda Rights Issue II Akibat Ketidakpastian Makroekonomi

Namun, laju pertumbuhannya diperkirakan tidak akan secepat periode sekarang apabila dampak dari kenaikan suku bunga sudah mulai berimbas luas ke sektor riil.